
Setelah Kuala Lumpur dan Melaka, Johor Bahru adalah negara bagian Malaysia selanjutnya yang menjadi tujuan JJS (Jalan-jalan Santai/Sebentar).
Johor Bahru. Kota satelit alias kota commuting alias kota perbatasan antara Malaysia dan Singapura. Betapa beruntungnya para warga yang tinggal di kedua negara itu.
Bayangkan seorang warga Malaysia sedang gabut kemudian terbesit di benaknya, “Eh, ngopi ke Singapura yuk! Pulangnya mampir beli Beyond the Vines”. Dan di menit berikutnya, mereka sudah menjejakkan kaki di Singapura setelah menyeberang melalui jalan tol.
Atau warga Malaysia yang bekerja 9 to 5, commuting setiap hari melewati perbatasan dua negara, dan mendapat transferan gaji dalam dollar Singapura. Aduh, warga pengguna jalur merah KRL yang transit di stasiun Manggarai setiap hari, tidak bisa related ((kesenjangan commuting)).
Johor Bahru menurutku terasa seperti kota-kota Malaysia lain yang pernah kukunjungi; dari tata kota sampai kuliner. Hanya saja, orang-orangnya berjalan lebih “tergesa-gesa”. Mungkin karena sebagian besar dari mereka adalah warga Singapura—yang memang apapun serba cepat dan berorientasi pada kerja, kerja, dan kerja.
Aku masih meyakini pemahaman bahwa jika berhasil bertahan hidup di Jakarta, maka akan bisa berhasil pula bertahan hidup di kota manapun. Termasuk Singapura.
Tidak banyak destinasi wisata yang tersedia di Johor Bahru. Sebagian orang mungkin mengenal Legoland, atau premium outlet—termasuk aku, sih lmao. Dan Johor Premium Outlets menjadi salah satu alasan utama merancang agenda perjalanan ke Johor Bahru.
🐯 Hari 1 🐯
Bertolak dari CGK menuju JHB dengan penerbangan langsung AirAsia yang jadwalnya hanya tersedia satu kali bolak-balik (pergi pagi, pulang malam).
Mendarat di JHB, kami lanjut naik bus dari bandara menuju JB Sentral. Harga tiket RM8 per orang. Ternyata Singapura memang sedekat itu! Hanya 20 km-an, literally di pulau seberang.
JB Sentral selain berupa terminal bus pusat dan pertokoan, adalah tempat yang dipenuhi kendaraan secara 24 jam non-stop mengantri keluar-masuk perbatasan. Sekarang sedang ada proyek pembangunan MRT relasi Malaysia - Singapura.
Ya ampun, warga pengguna MRT Bundaran HI - Blok M, sekali lagi tidak bisa related ((kesenjangan akses transportasi publik yang layak)).
Mendapati ini membuat salah satu kotak memoriku terbuka; pengalaman beberapa tahun silam ketika aku kehilangan kartu kedatangan dan berujung ditahan sementara oleh petugas imigrasi. Sejak kejadian tersebut masih ada sisa ketakutan irasional (atau trauma yah) di dalam diriku sebelum mendarat di Malaysia nanti aku harus mengisi kartu kedatangan secara manual.
Damn. Untunglah sekarang sudah daring semua.
Setelah check in hotel dan bersih-bersih sejenak, kami bertolak ke ujung terjauh Johor Bahru demi toko buku diskonan: BookXcess di Sunway Big Box Retail Park. Bahkan supir Grab yang mengantar kami sampai berkomentar, “Jauh sekali hendak cari buku!”
Rupanya koleksi buku di BookXcess serupa dengan Big Bad Wolf! Yah, make sense sih, kan Big Bad Wolf berasal dari Malaysia pula. Memasuki toko buku itu, aku disambut rak-rak buku tinggi sampai lantai dua. Selain buku-buku impor berbahasa Inggris, ada buku-buku terbitan lokal. Bahkan ada tumpukan blind book yang dikemas dengan cantik, dilengkapi catatan berisi clue isi buku.

Aku langsung berpindah dari satu rak ke satu rak lain. Menamatkan lantai satu sebelum beranjak ke lantai dua. Menunduk. Memindai. Menengadah. Memindai. Meraih. Mengembalikan. Memindai lagi. Meraih lagi.
Inilah serunya berburu buku diskonan. Layaknya harta karun—entah buku menarik apa yang akan kutemui setelah mencari di antara ratusan judul. Tersembunyi atau tersisa satu di balik tumpukan buku.
Saat itu sedang ada promo beli empat gratis satu buku. Aku sadar aku punya kehendak bebas yang bisa kugunakan kapanpun, tapi aku pun menyadari aku punya keterbatasan waktu. Jadi, sebelum hari semakin larut, dan semakin tersesat di labirin rak, aku membawa pulang tiga buku:
📚 Really Good, Actually (Monica Heisey)
📚 D is for Dahl (Roald Dahl, Quentin Blake)
📚 Mr. Stink (David Walliams)
Adikku dapat dua buku, dan setelah menggunakan promo, total belanja adalah RM97.60 atau hanya 400 ribuan! Buku impor pula! Oh wow, inilah yang paling kusuka hehe.
Kami bertolak kembali menuju hotel. Memesan makanan dari layanan pesan-antar di Grab. Mempersiapkan diri untuk agenda belanja di hari esok.
🐯 Hari 2 🐯
Membeli buku di BookXcess sebenarnya hanyalah agenda tambahan, karena yang utama adalah membeli tas Longchamp di Johor Premium Outlets.
Mengapa harus jauh-jauh beli di sana? Jawaban sederhana: harga lebih murah.
Di momen inilah girl math bekerja. Kesempatan sebagai poin tambahan (alias “Mumpung punya kesempatan ke sana”). Lebih banyak dipengaruhi oleh kehendak bebas untuk menggunakan my adult money.

Sebagai seorang corporate girl yang sudah bekerja beberapa tahun, aku pun memiliki impian konyol seperti corporate girl lainnya, yakni bisa membeli (affordable) luxury bag yang layak, fungsional, dan tahan lama. Walau begitu tetap mengutamakan tanggung jawab secara finansial dulu dong (alias nabung dulu).
Mengapa Longchamp?
Well, setelah menyimak ulasan-ulasan di internet yang katanya “cocok untuk tas tempur dan cemplang-cemplung”, aku berhasil teracuni untuk memasukkan Le Pliage ke daftar keinginan. Kurasa tipe tas cemplang-cemplung ini cocok untukku.
Terbuat dari bahan nilon yang tahan lama, tersedia berbagai ukuran (medium atau large) sesuai kebutuhan penyimpanan barang-barangku, bagian handle yang tidak membuat sakit bahu, desain klasik dan tak lekang oleh waktu, dan warna-warna yang bisa dipadukan dengan berbagai outfit.
Meski sehari-hari aku memakai ransel untuk bekerja—layaknya anak sekolah sedang bimbel—aku berpikir: aku butuh jenis tote bag cemplang-cemplung berkapasitas besar yang selain bisa kupakai jalan-jalan (sekadar ke Blok M atau companion koper ketika bepergian), juga bisa kupakai kerja (sekaligus membawa kotak bekal, botol minum, payung, dan printilan lainnya itu).
Dan yang paling penting: commuting friendly. Tahan banting dalam mengarungi transportasi publik Jakarta. Tahan air—terkena gerimis sedikit tidak masalah.
Aku naksir warna mocha dalam varian Le Pliage Green. Tapi, di outlet JPO hanya tersedia beberapa warna dari koleksi musim lalu. Jadi, setelah menyeleksi secara seksama, mencoba satu per satu sambil mematut diri di depan cermin, dan dipengaruhi rekomendasi kakak asisten toko, aku memutuskan untuk membawa pulang warna sauge ukuran large.
Gemas juga yah, tak pernah terpikirkan sebelumnya aku akan pakai warna ini. Biasanya aku cenderung memilih warna netral, seperti hitam atau cokelat. Walau termasuk tone hijau, tetap terlihat classy dan cocok dipadukan dengan berbagai warna outfit.
Setelah mendapat diskon dari outlet, harganya menjadi RM664 atau hanya 2,7 jutaan. Harga asli toko di Indonesia adalah 3,3 juta—saving 600 ribuan untuk dining di AYCE akhir pekan depan.
Azek. Alhamdulillah. Impian konyol si corporate girl untuk memiliki (affordable) luxury bag berhasil terwujud!
Selanjutnya kami menyusuri deretan outlet dari jenama lain—masuk dengan ekspektasi, keluar dengan kesadaran membumi bahwa tidak semua barang lucu harus dibeli. Kadang cukup ditertawakan dan dilupakan. Demi kondisi finansial—ahem, cash flow—yang lebih bertanggung jawab dan terkontrol.
Setelah urusan duniawi, kini urusan akhirat (oh wait, harusnya duniawi sebagai selingan, bukan sebaliknya 🙏).
Kami bertolak menuju Masjid Sultan Abu Bakar yang rupanya terletak di depan Kebun Binatang Johor Bahru. Para hewan kalau hendak pergi Jumatan tinggal jalan ke depan (lmao Zootopia kah).

Ini merupakan masjid tertua di Johor Bahru, terlihat dari bangunannya yang antik ala Victorian gitu dengan menara-menara menjulang. Kalau berdiri dari tangga masjid, tampak laut yang membatasi antara Malaysia dan Singapura. Aku suka dengan motif karpet di dalam masjid.
Setelah shalat dan berfoto sebentar, kami sekalian berkunjung ke kebun binatang. Mumpung letaknya depan-depanan, cukup menyebrang jalan. Harga tiket untuk warga non Malaysia adalah RM30 per orang. Area-nya tidak terlalu besar, dengan posisi kandang yang memutar dan bertingkat-tingkat.

Kami mendapati seekor harimau sedang asyik berendam di dalam kolam, sambil menyesap air. Aduh, segar banget ya, Cing panas-panas begini.
Selain itu, ada area luas berupa padang rumput yang dihuni oleh kawanan rusa! Wow, ini nih. Seharusnya they are roaming free in the green field, alih-alih ditempatkan dalam kandang terbatas. Nah, basically every animal deserves to roam free in the wild sih 😭.
Beberapa saung, eh maksudnya semacam tempat bernaung untuk memandang aktivitas mereka makan-makan rumput, dipenuhi para pengunjung yang sedang duduk-duduk berpiknik.
Beberapa ekor burung sesekali terbang dan hinggap di pepohonan. Kadang mendarat sebentar di antara para rusa. Contoh nyata dari simbiosis mutualisme. Hidup mereka tenang sekali. Berasa sedang menonton cuplikan video dokumenter National Geographic.

Kami lanjut berkunjung ke kandang-kandang lain: dari mulai hewan terbesar sampai terkecil, dan berusaha menghindari kandang ular (tidak, terima kasih deh). Sebelum hujan turun semakin deras, kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Lanjut menikmati makan malam di suatu kedai kopitiam yang kami temui di mal JB Sentral.
🐯 Hari 3 🐯
Kami bangun agak pagi, sarapan di hotel, lanjut jalan kaki sampai bertemu deretan kedai kopitiam dan kafe di area sekitar Jalan Dhoby.
Jalan Dhoby dan sekitarnya begitu kontras dengan jalan-jalan utama JB Sentral. Lebih tenang dan sepi dari hiruk-pikuk kendaraan, dan didominasi oleh pejalan kaki (atau dalam hal ini, turis seperti kami) yang sedang asyik nongkrong sambil menikmati kopi.

Ada beberapa kedai yang padat oleh antrian (lah, Blok M kah). Ada beberapa kedai dengan fasad lucu. Kami memutuskan untuk masuk ke salah satu kafe—namanya Palates and Bagels. Selain terlihat tidak terlalu ramai, boleh juga kami mencoba makan bagel sambil minum matcha (also for the second breakfast!).
Masih kenyang oleh sarapan hotel, jadi kami pesan cranberry bagel, es matcha, dan es cafe latte. Rasa matcha-nya tidak terlalu rumput dan tidak terlalu creamy (wow, matcha connoisseur kah bisa komentar begini lmao). Ternyata bagel lebih terasa gurih alih-alih manis walau ada potongan cranberry.
Tekstur-nya pun lebih mirip roti panggang. Kukira akan terasa lembut dan empuk seperti roti bulat (bun). Kurasa aku akan lebih cocok makan bagel versi asin/gurih. Well, kapan-kapan coba lagi deh.

Setelah menandaskan semua yang tersaji, kami mengambil rute balik ke hotel. Tapi, melipir dulu ke mal JB Sentral karena dua hari kemarin kami belum sempat inspeksi, eh menjelajahi, secara menyeluruh isinya apa saja.
Ada beberapa mal di area JB Sentral, kami tidak hapal nama-namanya. Kami masuk ke salah satu mal—sepertinya Johor Bahru City Square. Eh, rupanya ada toko buku namanya Popular! Selain alat tulis, pernak-pernik, dan buku-buku best seller harga normal, ada rak khusus buku diskon.
Koleksinya tidak sebanyak BookXcess. Aku langsung memindai dan memilih. Sebagai tanda mata, aku membawa pulang The Terracotta Dog (Andrea Camilleri).
Lanjut check out hotel, menitipkan koper di resepsionis, kemudian berkunjung ke Skyscape Menara JLand yang letaknya hanya beberapa langkah dari hotel untuk melihat pemandangan Johor Bahru dari atas.
Harga tiket untuk warga non Malaysia RM38 per orang, ditambah RM2 untuk penutup sepatu agar tidak licin. Well, kukira aku sudah cukup tangguh dan berani menghadapi kaddang-kidding kehidupan dunia, rupanya begitu melangkahkan kaki di atas lantai kaca setinggi 149 meter, aku langsung membeku.
Apalagi setelah melihat ke bawah (keputusan yang sangat gegabah), aku merasa kedua telapak kakiku berkeringat. Sekujur tubuhku merinding. Walau aku tahu tidak akan terpeleset karena sudah memakai penutup sepatu, aku tetap takut melangkah.

Jadi, aku berusaha mengabaikan ketakutanku, menahan diri untuk tidak melihat ke bawah, dan berfoto-foto dengan cepat (dengan ekspresi tegang, tentu saja lmao).
Laut perbatasan Malaysia - Singapura, riuh-rendah kota Johor Bahru, dan Singapura di seberang bisa terlihat secara menyeluruh dari lantai 34. Tidak perlu waktu lama, aku langsung masuk gedung kembali setelah cukup melihat.
Selain menara pandang, juga ada kafe dan arena bermain VR. Harga minumannya cukup murah—mulai dari RM5 sudah bisa ngopi di atas Johor Bahru. Aku lanjut menikmati pemandangan dari panel kaca sambil menyesap teh kurma. Lumayan deh untuk khazanah pengalaman.
Lanjut balik ke hotel untuk ambil koper, bertolak ke bandara, dan makan siang di kedai kopitiam Oriental Kopi yang terletak tidak jauh dari pintu kedatangan. Menunya beragam dan terlihat enak semua. Aku pesan nasi goreng ayam dengan telur ceplok yang meleleh ketika dibelah.
Rasanya? Masya Allah nikmat sekali sampai aku bersyukur berkali-kali.

Sumpah deh, kenapa yah ayam goreng di Malaysia itu terasa lebih enak, empuk, dan juicy? Bahkan potongannya lebih besar. Sekarang aku paham alasan Upin dan Ipin begitu menyukai ayam goreng.
Kami juga pesan egg tart; kue telur berbentuk seperti pai yang lembut di bagian atas, dan garing di bagian bawah—dan kaya toast; roti panggang berisi selai kelapa dengan mentega gurih.
Rasanya? Aduh, masya Allah sama nikmatnya dan membuatku kembali bersyukur.
Setelah menandaskan semua yang tersaji, kami melewati imigrasi dengan selamat, masuk ke ruang tunggu, dan duduk manis sampai tiba waktu keberangkatan jam 7 malam.
Kembali ke Jakarta, esoknya bekerja di depan spreadsheet sebagai upaya memulihkan keadaan finansial untuk liburan selanjutnya sementara benak sibuk mempertimbangkan, “Apa pindah ke Malaysia saja kali yah?”

No comments
Terima kasih atas komentarnya, Kawan. Maaf dimoderasi dulu (ᵔᴥᵔ)