
Adulting 101: terhanyut di tengah ketenangan kota lama Melaka, Malaysia.
Rupanya ada sebuah kota penuh sejarah berjarak dua jam perjalanan darat dari Kuala Lumpur. Bahkan termasuk ke dalam situs warisan dunia UNESCO. Boleh juga kan sesekali jalan-jalan santai menapaki jalur kenangan peninggalan jajahan Portugis. Tidak melulu terlarut dalam ingar bingar dan gemerlap ibukota.
⚓️ Hari 1 ⚓️
Bertolak dari CGK ke KLIA sejak pagi-pagi buta, lanjut naik bus antar provinsi eh antar negara bagian dari terminal bus bandara. Harga tiketnya RM 35. Bisa dibeli secara daring atau langsung di konter. Karena kami tidak bisa memastikan secara tepat jendela waktu yang diperlukan mulai dari turun pesawat sampai proses imigrasi (antri!), kami memutuskan untuk beli tiket melalui konter.
Tidur yang sempat jeda sejak turun pesawat kembali berlanjut di dalam bus. Untunglah kursinya lumayan nyaman—bisa direbahkan dan ada sandaran kaki. Perjalanan dua jam tidak terasa, bangun-bangun sudah sampai terminal bus Melaka. Sumpah, aku sama sekali tidak memedulikan pemandangan sepanjang jalan.
Terminal bus sungguh sepi. Hanya ada satu-dua taksi berjejer menunggu penumpang. Kami bertolak ke pusat kota untuk check in hotel. Ketika menelusuri jalan raya Melaka, rasanya seperti menjadi tokoh protagonis dalam sebuah film drama misteri yang sedang menyelidiki kasus pembunuhan di suatu kota kecil.
Ada gedung-gedung dengan arsitektur lama, jalan-jalan berbatu dengan trotoar, air mancur di tengah-tengah, patung-patung, papan jalan, dan kawanan burung gagak yang riuh rendah berkaok (I wonder why burung gagak tidak lazim ditemui di Indonesia).

Karena perbedaan waktu satu jam lebih cepat daripada Jakarta, jadi jam enam sore di Melaka masih terang benderang. Kami menghabiskan sisa hari dengan berjalan menyusuri sungai, melalui Jalan Lorong Hang Jebat, sampai memasuki area Chinatown dengan pasar malam Jalan Jonker.
Sebelum lanjut eksplorasi, kami singgah di salah satu kedai makanan khas Malaysia. Aku memesan nasi lemak ayam dengan telur ceplok, teri, dan kacang. Semua makanan memang terasa enak kalau sedang lapar, apalagi setelah menempuh perjalanan panjang mengarungi dua batas negara sejak pagi buta.
Di dekat kedai kami menjumpai sebuah becak sedang terparkir di depan area pertokoan. Tapi, becak ini amat sangat menarik perhatian. Seluruh bagian, mulai dari kursi penumpang, atap, sampai kursi pengemudi ditutupi oleh boneka Pikachu dan hiasan berkilau. Rupanya ada banyak becak seperti itu di mana-mana sejauh mata memandang! Tidak hanya Pikachu, tapi ada Kuromi, Keroppi, Doraemon, Spider-Man, bahkan karakter-karakter Frozen.
Wah, apakah semua jenis becak di Melaka seperti ini atau hanya kebetulan berada di area wisata?
Pertanyaan langsung terjawab ketika Pa secara impulsif mendekati seorang pengemudi becak. Seketika kami sudah duduk manis di dua becak terpisah, siap untuk eksplorasi situs-situs ikonik di Melaka. Rupanya duduk dikelilingi boneka belum cukup meriah, karena becak dapat menyala terang benderang dengan warna-warni neon sambil memutar lagu-lagu viral.
Astaga, jiwa introvert-ku merana, mendadak menjadi pusat perhatian. Lebih parahnya lagi, becak mengumandangkan lagu Stecu sambil menembus arus para pejalan kaki.
Becak berhenti di beberapa area wisata: dermaga sungai Melaka, replika kapal raksasa yang ternyata adalah sebuah museum, sebuah taman dengan kereta jadul sedang terparkir, sebuah reruntuhan benteng peninggalan kolonial bernama A Famosa, dan berakhir di alun-alun Gereja Kristus Melaka. Karena hari sudah gelap, jadi kami tidak bisa berfoto-foto sambil melihat setiap area secara lebih jelas.
Kami memutuskan untuk kembali ke pasar malam Jonker.

Nah, ini nih salah satu hal yang paling kusukai dari perjalanan: wisata kuliner.
Sepanjang jalan berjejer aneka lapak dipenuhi para pejalan kaki. Ada lapak makanan manis, gurih, bahkan lapak pernak-pernik (aku menemukan gantungan kunci para karakter brainrot alias Tung Tung Sahur dkk yang disturbing. Kenapa sih anak-anak pada suka ya 😭). La petite sœur langsung melipir ke lapak makanan gurih: baby crabs goreng, sedangkan aku ke lapak makanan manis: waffle dan sate buah berlapis gula. Rasanya? Tentu saja enak dan manis.

Semakin malam, pasar semakin ramai. Kami pulang ke hotel menyusuri jalan yang sama, kali ini sambil membawa jajanan. Di dekat hotel ada Guardian dan 7-11, jadi untuk memaksimalkan pengalaman kultural tentu saja melipir dulu. Ini juga adalah salah satu hal yang paling kusukai: melihat-lihat kudapan suatu negara yang dijual di minimarket, serta merek skincare dan kosmetik lokal (siapa tahu menemukan shade lipstik atau pelembab yang cocok kan).

Pergi dengan tangan kosong, pulang ke kamar hotel dengan tangan terisi plastik belanja aneka jajanan. Pengingat untuk diri sendiri: jangan tergoda untuk mengecek konversi dari mata uang lokal ke rupiah. Dampaknya cukup destruktif alias tidak jadi beli tuh.
⚓️ Hari 2 ⚓️
Setelah sarapan di hotel, kami bertolak menuju dermaga Jeti Taman Rempah untuk tur sungai dengan kapal. Jaraknya hanya 2 km dari hotel. Kami membeli tiket on the spot seharga RM 38 per orang dewasa. Sebelum naik kapal, ada sesi foto keluarga yang hasilnya bisa diambil setelah tur.
Kapal menyusuri beberapa spot seperti contoh rumah tradisional Melaka, taman hiburan dengan bianglala, jembatan-jembatan, seraya dipandangi oleh para pengunjung yang sedang duduk di kafe-kafe sepanjang sungai. Aku berharap menemui berang-berang, tapi ternyata tidak ada (atau mungkin mereka lebih lihai bersembunyi).

Setelah menyusuri sungai jauh sampai melewati dermaga yang kami kunjungi semalam, kapal berbalik arah—kembali ke titik awal. Perjalanan pergi-pulang kira-kira hanya selama 30 menit. Tur-nya lumayan menyenangkan. Karena saat itu jam 9 pagi, jadi tidak terlalu panas.
Itinerary selanjutnya adalah Masjid Selat Melaka yang terletak di pinggir laut. Menyusuri bagian selatan kota yang lebih senyap ini, aku menyadari bahwa Melaka ternyata tidak hanya punya wisata sejarah, tapi juga wisata gunung dan laut.
Ada aturan berpakaian sebelum memasuki masjid, yaitu memakai pakaian yang menutup aurat.

Aku mendapati beberapa turis asing sedang mencoba memakai rok panjang dan kerudung bermotif warna-warni yang memang dipinjamkan oleh pihak masjid di gerbang masuk. Beranda masjid yang mengarah langsung ke laut mengingatkanku pada masjid terapung di Jeddah. Anginnya cukup kencang dengan cuaca panas, jadi setelah berfoto-foto sedikit kami lanjut duduk-duduk berteduh di tangga masjid sambil melihat pengunjung lain berfoto-foto.

Destinasi selanjutnya adalah Museum Penjara Melaka. Kesan pertamaku ketika mendengar ini adalah: wow, unik juga yah ternyata penjara bisa dijadikan museum. Oh wait, memangnya penjara bisa dijadikan museum? Memangnya sudah tidak berfungsi?
Kami naik taksi daring dari masjid menuju museum. Harga tiket masuk gratis, hanya perlu mengisi buku tamu. Persepsiku berubah setelah berjalan memutari setiap bagian museum. Yeah, penjara memang tempat menyeramkan, apalagi ketika aku melihat secara langsung bilik isolasi dengan pintu berlapis dan rekaman proses pemeriksaan para narapidana yang menyelundupkan barang-barang terlarang (amat sangat mengguncang jiwa).

Empatiku muncul ketika aku melihat situasi dapur penjara—dengan kuali-kuali raksasa dan berbagai alat masak; kamar mandi komunal—dengan kolam air dan barisan pancuran terbuka; ruang pameran hasil karya para narapidana—lukisan, puisi, komik, cerita pendek (sungguh, betapa puitis dan kreatif-nya mereka); tempat pertemuan para napi dan pengunjung—dengan dinding kaca dan jaring-jaring besi sebagai pemisah (ini persis seperti di film-film. Ternyata benar, tidak ada kontak fisik secara langsung sama sekali. Hanya ada telepon di masing-masing sisi).
After all, they are all humans too. Just like us.

Hatiku semakin mencelus ketika aku melangkahkan kaki ke dalam koridor berisi barisan sel penjara dengan nomor-nomor dipasang di atas masing-masing pintu. Betapa dingin dan gelap. Langit-langitnya tinggi, hanya ada satu jendela kecil yang menampakkan berkas sinar matahari jauh di dinding atas.
Ini persis seperti di film-film juga, dan deskripsi dari buku-buku fiksi klasik.
Aku tidak percaya pernah ada manusia-manusia sungguhan di sana, terkurung bersama, tidur bersama, menghitung hari bersama sampai bebas kembali.

Koridor sel penjara belumlah cukup mengerikan. Rupanya ada ruang khusus eksekusi terpidana mati. Di dalamnya ada beberapa alat penyiksaan dan tempat menyimpan jenazah sementara. Lanjut keluar gedung utama, aku menemui lapangan atau area terbuka yang sepertinya dulu digunakan sebagai tempat berkumpul para narapidana.
Lagi-lagi ini persis seperti di film-film. Aku langsung membayangkan suasana ketika tiba-tiba muncul perkelahian di antara para narapidana sampai harus dipisahkan oleh petugas, kemudian si pemicu atau siapapun yang dianggap mengacau dibawa ke bilik isolasi.
Selain itu, di bagian belakang gedung ada sebuah kamera besar yang sepertinya dulu digunakan untuk membuat foto residivis (melihatnya jadi teringat adegan pembuka di satu episode Brooklyn Nine-Nine yang super kocak). Ada surau alias tempat ibadah, serta klinik penjara yang masih dilengkapi ranjang pasien dan kursi pemeriksaan gigi. Aku juga mendapati ruangan berisi barisan mesin jahit untuk membuat pakaian narapidana.
Menjawab pertanyaan di awal: yeah, penjara bisa dijadikan museum. Bahkan lumayan menarik jika pengunjung mendapat akses masuk ke ruangan-ruangan tertentu. Penjara Melaka rupanya terakhir berfungsi pada 2010, ditunjukkan dengan buku laporan kedatangan dan kepergian narapidana, sebelum secara resmi ditutup untuk dijadikan museum.
Setelah berkeliling semua area museum, kami menenangkan diri sekaligus cari makan siang di mal AEON. Eh, rupanya di sana ada toko buku! Tentu saja langsung melipir dong. Karena kami bukan rojali dan rohali, jadi setelah berkeliling dan menimbang dari satu rak ke rak lain, aku membawa pulang dua buku dengan harga diskon: Serpentine (Philip Pullman)—companion book dari trilogi His Dark Materials, yay!; dan No Longer Human (Osamu Dazai)—terbitan salah satu penerbit asal New Delhi, terjemahannya lumayan bagus kok.

Hari masih sore ketika kami kembali ke hotel. Setelah bersih-bersih dan santai sejenak, kami memutuskan untuk menghabiskan sisa hari dengan berjalan-jalan mengunjungi spots wisata yang kemarin sempat terlewat. Semuanya bisa ditempuh hanya dengan jalan kaki. Tentunya seraya diselingi jajan es kelapa.
Kembali menyusuri sungai, melewati kafe-kafe dengan pengunjung yang tengah menikmati makanan sambil melihat kapal lewat. Sampai di Gereja Kristus Melaka, berfoto sebentar walau dipenuhi turis, lanjut jalan mendaki bukit menuju reruntuhan Gereja St. Paul.

Di dalamnya ada kuburan-kuburan bawah tanah dengan batu-batu nisan raksasa. Melangkahkan kaki di bawah naungan bebatuan gereja mengingatkanku dengan Dracula atau film bertema eksorsisme yang dibintangi Russell Crowe.
Tidak kok, tidak terasa menyeramkan sama sekali. Malah terasa tenang dan senyap.
Apalagi kami bisa melihat kota Melaka dari atas sambil menikmati langit sore. Di ujung cakrawala tampak laut, jalan raya, dan deretan bangunan persegi berwarna-warni dengan atap segitiga.

Aku membayangkan menempati salah satu flat dari bangunan itu. Sepertinya akan menyenangkan menjalani kehidupan ala kota kecil yang lambat. Tapi, lamunanku terhenti karena kami harus lanjut eksplorasi, turun melalui barisan anak tangga curam yang membuat kedua tungkaiku bekerja lebih keras.
Kami sampai di A Famosa dengan beberapa meriam yang terpasang di masing-masing sudut. Tidak ada yang cukup menarik, sih. Setelah itu kami pulang melalui taman kereta jadul, jembatan menuju pasar malam Jonker, menyusuri pinggir sungai tapi kali ini dari sisi sebaliknya, mendapati bagian belakang bangunan dengan lukisan Hang Jebat dan Hang Tuah yang sedang berkelahi, dan berakhir di salah satu kafe untuk makan malam.

⚓️ Hari 3 ⚓️
Kami bertolak menuju KLIA dengan naik bus di pagi-pagi buta. Check in di bandara, dan menunggu jadwal keberangkatan pesawat masih sambil terkantuk-kantuk.
Boleh lah jika diberi kesempatan ke Melaka lagi, agendanya adalah nongkrong di kafe sambil baca buku dan merenung memandangi sungai selama seharian.

No comments
Terima kasih atas komentarnya, Kawan. Maaf dimoderasi dulu (ᵔᴥᵔ)