
Setelah tinggal di Jakarta selama beberapa bulan, pengalaman tamasya ke Bangkok tidak terlalu berbeda dengan berjalan-jalan menyusuri trotoar Jakarta.
Sama-sama disambut oleh cuaca panas menyengat, kemacetan lalu lintas dengan durasi lampu merah yang amat sangat panjang, gedung-gedung apartemen dan perkantoran dengan arsitektur serupa. Perbedaannya di pasar setempat ada barang-barang lucu nan murah meriah, buah-buahan tropis dengan warna-warni cerah, dan jajanan kaki lima yang tampak lezat melimpah ruah sejauh mata memandang di sepanjang jalan Bangkok.
Step aside, Singapore. Kau memang punya transportasi umum yang layak dan terjangkau, tapi kalau soal tempat menghambur-hamburkan uang secara sepadan untuk belanja barang tentu Bangkok juaranya.
Memanfaatkan liburan Lebaran selama beberapa hari (setelah mengajukan cuti beberapa minggu sebelumnya karena apa itu cuti bersama huh), bertolak dari CGK menuju BKK dengan Thai Airways yang berhasil mengubah cara pandangku terhadap jenis layanan maskapai.
Beneran dah, kalau aku punya anggaran berlebih aku akan mengalokasikannya untuk tiket pesawat maskapai jenis full service alih-alih low cost karena ternyata worth every penny! Pilihannya sih tekan di anggaran akomodasi atau transportasi, tapi untuk apa pusing memilih kalau bisa memaksimalkan di keduanya yegak (only if you got money alias kesenjangan maskapai penerbangan 😭).
Selama ini aku terbang dengan maskapai jenis full service untuk durasi perjalanan delapan jam (ketika umroh), tapi baru kali ini aku merasakannya untuk durasi hanya 2,5 jam. Ruang kaki lebih lega, ada sandaran kaki, ada bantal kursi, ada layanan hiburan (film Conclave sudah tersedia dong??? Oh wow, kurang menyenangkan apa coba menonton gebrakan Cardinal Tedesco dan Cardinal Benitez di ketinggian 30000 kaki???), dan rupanya kapasitas pesawat lebih besar dengan barisan kursi yang diatur 3-3-3.
Walaupun sepanjang penerbangan aku lebih memilih tidur, secara otomatis aku akan terbangun ketika mendengar pertanyaan “Chicken or beef?” terlontar dari pramugari/pramugara, padahal mereka masih berhenti di lima barisan kursi jauhnya. Well, itulah yang kusuka dari terbang bersama maskapai full service: dapat makanan enak dengan menu lengkap.
Anyway, beberapa hari di Bangkok dihabiskan dengan keluar-masuk mall dan pasar, jajan barang-barang lucu, terjebak di tengah kemacetan lalu lintas, makan malam sambil menyusuri Sungai Chao Phraya, berkunjung ke Grand Palace, dan jajan buah-buahan.
🍋 Hari 1 🍋
Setelah mendarat di Suvarnabhumi Airport, kami naik kereta layang bandara menuju stasiun Phaya Thai dengan tiket 45 baht per orang. Tiket bisa dibeli di mesin otomatis dengan memilih stasiun tujuan dan memasukkan lembaran baht, atau langsung beli di konter. Nanti akan dapat koin yang harus di-tap ketika masuk dan keluar gerbang otomatis stasiun.

Kereta layang di Bangkok tidak jauh berbeda dengan MRT/LRT di Jakarta. Dipenuhi turis dan koper-koper besar, kereta berangkat dari stasiun Suvarnabhumi di bawah tanah menuju stasiun Phaya Thai di atas jalan raya daerah Ratchathewi yang padat.
Lanjut naik tuk-tuk yang sedang mangkal di bawah stasiun menuju hotel di daerah dekat Pasar Pratunam, membawa serta koper-koper menembus kemacetan lalu lintas sambil diiringi musik pop Thailand yang membahana.
Setelah menaruh koper dan bersih-bersih, kami bertolak ke mall MBK dengan naik Grab car untuk makan malam sekaligus window shopping (yah, sambil belanja tipis-tipis lah). Rupanya perjalanan ke MBK dari area Pratunam amat sangat jauh. Ditambah kemacetan lalu lintas dan proses konstruksi MRT di sepanjang jalan. Melewati beberapa mall besar andalan warga: Platinum, Big C, Central World, dan Icon Siam.
Di MBK kami mendapati restoran halal yang menyediakan menu tom yum dan boga bahari di lantai dasar. Dalam sekejap setelah tersaji di atas meja, piring-piring sudah bersih tak bersisa makanan. Mungkin karena sedang lapar jadi semua terasa enak.
Ada toko kosmetik dan skincare yang terletak tepat di tengah di antara toko-toko lain, namanya Eve and Boy; begitu terang benderang dan etalase-etalasenya dipenuhi berbagai macam brand. Membuat salah fokus sampai-sampai secara tidak sadar kaki sudah melangkah ke dalam.
Mirip seperti Sociolla, tapi Eve and Boy amat sangat luas dan lengkap. Aku mendapati beberapa brand parfum designer dijual pula di sana. Kalau sudah masuk ke dalam toko seperti ini, tentu saja tidak bisa menahan godaan untuk tidak mencoba warna-warni produk kosmetik.
Bentuk kemasannya lucu-lucu, dan varian tester tersedia lengkap. Serta merta punggung tanganku dipenuhi nuansa warna-warni lipstik. Hasil dari petualangan mengelilingi toko adalah lip serum oil dari 42U dan parfum dari Janua, keduanya brand lokal (waduh kalau habis gawat nih harus repurchase ke negara asalnya).
Hari sudah larut jadi kami kembali ke hotel. Agenda belanja dilanjutkan besok.
🍋 Hari 2 🍋
Setelah kenyang oleh sarapan di hotel (the most important meal of the day), kami menggunakan layanan buggy car gratis dari hotel untuk menuju Pasar Pratunam. Hanya berjarak lima menit perjalanan, kami sampai di ujung gang dan lanjut jalan kaki. Suasananya cukup ramai, seperti pasar pada umumnya. Tapi, sejauh mata memandang hanya ada baju-baju dan aksesoris lucu murah meriah terpajang di etalase toko-toko.
Barang pertama yang membuat salah fokus adalah deretan celana bahan yang digantung bertumpuk-tumpuk. Wah, lumayan ini untuk celana kerja kan. Jadi, kami langsung masuk dan melihat-lihat. Harganya bervariasi tergantung model. Aku membawa pulang celana abu-abu berpotongan kulot harga 300 baht. Kurasa sepadan dengan jenis bahan dan kerapihan jahitannya.
Semakin masuk ke dalam pasar, semakin banyak godaan terpampang nyata di depan mata. Ada kaos-kaos dengan sablon ilustrasi lucu seharga 50 baht (yang langsung kami borong); ada aksesoris gantungan kunci berupa manik-manik, boneka capybara, dan labubu seharga 20-80 baht (yang langsung kami borong dan aku berhasil mengadopsi seekor capybara dengan celemek ala barista); ada kemeja-kemeja lengan pendek bermotif bunga-bunga dengan warna-warna retro, cocok untuk outfit konser (yang sayangnya potongannya terlalu pendek untukku jadi tidak kami beli); ada stan-stan penjual buah (yang langsung kami hampiri di perjalanan pulang untuk membeli sekotak ketan mangga, jeruk bali, dan kelengkeng). Sayangnya kami tidak bisa memborong semua karena keterbatasan baht (semua transaksi memakai cash), jadi kami kembali ke hotel.
Setelah shalat Jumat, kami memesan Grab car untuk menuju Icon Siam karena di sore hari nantinya kami akan menyusuri Sungai Chao Phraya sambil menikmati makan malam di atas kapal.
Perjalanan menuju Icon Siam pun sama jauhnya–rasanya tidak sampai-sampai.
Icon Siam adalah mall yang sangat besar dengan deretan brand luxury di lantai-lantainya (yang masih tidak akan bisa kubeli walau gajiku utuh selama satu tahun). Kurasa daya tarik dari Icon Siam adalah adanya ruang terbuka yang menghadap Sungai Chao Phraya dengan gedung-gedung yang menaungi.

Dermaga-dermaga berbatasan dengan halaman mall, dilengkapi kanopi dan ruang tunggu. Barisan-barisan pengunjung sedang antri naik ke kapal dengan berbagai tujuan. Walaupun tidak berbelanja, setidaknya kami bisa menikmati semilir angin, udara panas, dan sinar matahari yang terang benderang di hari cerah itu.
Dalam satu jam, kami akan menaiki kapal wisata yang akan berlayar menyusuri Sungai Chao Phraya dari ujung ke ujung. Tiket kapal dibeli secara daring di Traveloka seharga 300 ribuan per orang, sudah termasuk makan malam ala buffet.
Setelah check in, sambil menunggu waktu keberangkatan kami berpetualang mencari satu kedai gelato di lantai atas yang menjual minuman dan gelato bertema konser SEVENTEEN Right Here Bangkok. Kami tidak tahu apakah varian tersebut masih tersedia atau tidak, apalagi konsernya sudah lama berlalu.
Oh, betapa beruntungnya. Rupanya masih ada! Hanya saja varian gelato sudah habis, jadi kami membeli slushie, semacam minuman dengan susu dan es krim kocok.
Sebenarnya hanya berupa gelas minum dengan tajuk SEVENTEEN Right Here Bangkok yang dilengkapi ketiga belas nama member. Tidak ada bonus photocard, poster, gantungan kunci, atau apapun yang dapat diambil sebagai token. Tapi, tetap saja sebagai Carat kami sudah cukup girang bisa napak tilas perjalanan konser SEVENTEEN. Bisa menjadi satu bagian yang bersama merayakan dan menyemarakkan kehadiran SEVENTEEN di Asia Tenggara.
Rasanya? Enak! Tidak terlalu manis dan tidak terlalu terasa seperti susu. Ketika disruput rupanya ada remah-remah waffle di bagian dasar gelas yang turut serta.

Setelah kenyang oleh asupan gula sementara, kami kembali ke dermaga untuk antri naik kapal. Seorang fotografer mengambil potret setiap pengunjung. Beberapa saat kemudian, kapal berlabuh dengan musik dansa yang berdentum-dentum, seolah menyiarkan ke seluruh penghuni sungai bahwa kapal itu sudah datang dan siap berlayar mengangkut ratusan penumpang.
Nama kapalnya Meridian Cruise dan ternyata besar sekali! Di atas meja-meja sudah tersaji berbagai macam makanan; ada nasi, sayuran, daging, buah-buahan, sushi, sup, dan kudapan.
Aku khawatir akan mabuk laut ketika naik, tapi ternyata setelah berlayar malah biasa saja—tidak terasa terombang-ambing.
Beberapa detik setelah berlayar, serta merta penumpang memenuhi piring-piring dengan makanan. Aku sampai menunggu dulu sejenak sampai suasana sepi agar bisa mengambil makanan.
Perjalanan diiringi dengan live music. Awalnya para penyanyi membawakan lagu-lagu pop Barat, kemudian lagu-lagu pop Asia Tenggara sesuai demografi penumpang kapal. Bahkan mereka fasih menyanyikan lagu Rungkad, Maumere, dan Tiada Lagi! Mungkin karena saking seringnya mereka mendapati turis Indonesia. Seantero dek langsung berjoget dan bernyanyi bersama, apalagi setelah perut kenyang dan piring-piring sudah dibereskan.
Aku membayangkan wisata kapal seperti ini jika diwujudkan di Indonesia (oh damn, bayangkan wisata kapal Sungai Citarum atau Sungai Ciliwung). Kurasa itu hal yang musykil, lagipula ada hal-hal lebih penting yang lebih layak mendapat perhatian.
Kapal melewati Wat Arun dan Grand Palace (ternyata letaknya saling bersisian, lebih dekat dicapai melalui sungai); melewati gedung-gedung hotel, apartemen, dan perkantoran; melewati bawah jembatan; melewati rumah-rumah warga; bahkan sempat saling sapa dengan para penumpang kapal lain yang melintas (yang musiknya sama-sama berdentum keras).

Rupanya kalau dilihat lewat peta, ujung Chao Phraya adalah Teluk Thailand. Sepertinya kapal belum melewati separuh jalur sampai mendekati laut, sudah putar balik di bagian sungai yang lebih lebar kembali menuju dermaga Icon Siam.
Setelah dua jam berada di atas kapal, kami turun di dermaga dan bertolak menuju mall Big C.
Kurasa tidak ada yang terlalu menarik di Big C kecuali supermarket besar di lantai dua. Agar perjalanan menembus kemacetan lalu lintas tidak terasa sia-sia dan tidak pulang dengan tangan kosong, aku membeli sebungkus keripik salmon rasa tom yum dan sebungkus keripik kulit ayam. Yah, lumayan untuk cemilan di kosan.
🍋 Hari 3 🍋
Hari ketiga adalah waktunya kegiatan luar ruangan. Jadi, setelah memastikan sudah memakai tabir surya, membawa topi, payung, dan air minum, kami memesan Grab untuk menuju Grand Palace. Karena jalan ditutup khusus untuk pejalan kaki, kami diturunkan di ujung jalan dan lanjut jalan kaki kira-kira 200 meter.
Cuaca sudah panas, sinar matahari menyorot di segala arah walaupun masih jam 10:00. Belumlah sampai di depan gerbang Grand Palace, aku sudah bercucuran keringat. Tiket masuk seharga 500 baht per orang, beli melalui mesin otomatis dan bisa bayar dengan kartu. Bersama turis-turis lain, berbondong-bondong masuk kompleks Grand Palace.

Tapi, sebelum berkeliling mencari toilet terlebih dahulu (rupanya terletak jauh di belakang dekat pintu keluar). Kami memutar kembali ke pintu masuk, melewati tembok-tembok lukisan yang menunjukkan suasana kerajaan. Naik menuju bagian bangunan dengan pilar-pilar emas, tembok keramik biru bermotif, dan lonceng-lonceng emas tergantung di tepi atap. Turun kembali mengitari separuh kompleks, mendapati taman-taman di sudut yang dipenuhi patung.
Sebagian turis sedang duduk-duduk di dalam pendopo yang terletak di tengah. Kami tidak masuk ke dalam bangunan dengan patung Buddha rebahan karena malas lepas sepatu.
Sebelum cuaca semakin panas, kami memutuskan untuk berkunjung ke tempat selanjutnya: Museum Nasional Bangkok—yang terletak kira-kira 15 menit jalan kaki atau 500 meter dari Grand Palace.
Mampir sebentar membeli es kelapa di salah satu kios depan gerbang keluar untuk asupan elektrolit. Kemudian kami lanjut jalan kaki menuju museum.
Harga tiket 200 baht per orang untuk akses masuk ke beberapa gedung. Koleksi museum berupa barang-barang peninggalan kerajaan Thailand: rumah boneka, aneka porselen, aneka topeng, aneka senjata, aneka singgasana dengan hiasan-hiasan bersepuh emas, bahkan ada diorama perang dengan pasukan prajurit mungil dan patung seekor gajah!

Dalam parade atau arak-arakan, sang raja akan duduk di atas singgasana tinggi yang dipanggul oleh sepasukan orang. Sudah pasti sang raja harus punya tubuh yang bugar agar dapat memanjat tangga menuju singgasana; aku membayangkan energi yang harus dikeluarkan. Yah, bagaimanapun jika kau adalah seorang raja kau tidak akan pernah memusingkan harus memanjat setinggi itu karena ada banyak asisten yang akan membantu.
Di ruang pameran juga ada video yang menunjukkan prosesi arak-arakan. Sang raja tinggal duduk manis sementara puluhan umbul-umbul (yang dipegangi para prajurit) menaungi dari cuaca panas.
Setelah puas melihat-lihat dan keluar-masuk gedung-gedung pameran, kami bertolak ke mall Platinum untuk jajan kuliner di sepanjang jalan.

Sebagian besar warung makan halal dengan menu nasi goreng, mie goreng, aneka gorengan boga bahari, dan buah-buahan. Sebenarnya hari belumlah gelap, tapi kami memutuskan untuk balik ke hotel dulu dan merancang rencana perjalanan malam nanti.
Kalau sudah berada di dalam kamar hotel, AC menyala dengan suhu dingin, rebahan sambil selimutan, lenyap sudah godaan untuk keluar lagi. Tapi, la petite sœur bilang bakal ada BamBam, member GOT7, di Central World malam nanti! Jadi, setelah membulatkan tekad walau mager, kami bertolak menemui sang idol.
Setelah shalat Maghrib, kami menggunakan layanan buggy car dari hotel menuju depan gang dekat Pratunam Market. Lalu lanjut jalan kaki sampai jalan raya (ternyata kantor KBRI ada di daerah sini: Ratchathewi), menyusuri pertokoan dan kios pedagang kaki lima, menyebrang melewati JPO di atas (vibe Jakarta sekali), dari Platinum Mall belok kanan melewati Big C, dan sampai di Central World.

Tampak panggung, banner, dan area foto yang sudah dipenuhi orang. Ternyata BamBam menjadi semacam duta untuk brand minuman energi. Tapi, sayangnya beberapa detik setelah menginjakkan kaki di pelataran Central World, bertepatan dengan BamBam yang hendak pamit kepada para pengunjung. Belumlah satu detik berkesempatan melihat wajah BamBam di layar sebelah panggung, eh, dia sudah pergi kembali ke belakang.
Betapa kecewanya kami. Yah, setidaknya ada hikmah yang bisa diambil: lain kali kalau ada acara jumpa penggemar seperti ini lagi dan berencana datang, niatnya jangan setengah-setengah alias keselak mager.
Karena kepalang datang, jadi kami masuk ke dalam Central World yang ternyata luas, besar, dan dipenuhi tenant menarik. Berkunjung ke Gentle Woman untuk meninjau harga dan kualitas tas. Mohon maaf, aku adalah anggota kaum mendang-mending, tapi tas bahu berbahan kanvas yang bahkan tidak dilengkapi risleting kurasa tidaklah sepadan dengan harga 1300 baht 😭✋.
Selain kaum mendang-mending, aku adalah anggota kutu buku jadi destinasi selanjutnya adalah Kinokuniya. Astaga, sepertinya aku berada di surga deh. KOLEKSI BUKUNYA BANYAK SEKALI. Siap-siap kalap ini mah. Aku langsung melipir ke kategori rak literature. Dan ada koleksi fiksi klasik dari berbagai penerbit dengan sampul-sampul cantik.
Dalam usaha menerapkan sikap mindful dalam berbelanja, aku membuka kalkulator yang dilengkapi nilai tukar valuta asing sambil melihat harga buku sambil membandingkan harga di Indonesia (aku membuka situs Periplus dan Shopee).
Secara keseluruhan, harganya lebih murah di Bangkok jadi tentu saja dengan senang hati (dan bermodal Bismillah) kuambil beberapa judul pilihan dan kubawa ke kasir.
Aku juga berusaha menekan perasaan menyesal-yang-datang-belakangan alias kaget setelah mengkonversi harga ke rupiah, layaknya seorang turis cakap yang sudah terbiasa bepergian ke luar negeri (ingat, kau liburan untuk bersenang-senang bukan untuk stress ya!!!).
Setelah menimbang dan menghitung, inilah judul-judul buku yang kubawa pulang dalam koper kabin: Slaughterhouse-Five (Kurt Vonnegut), White Nights (Fyodor Dostoevsky), dan Travels with Charley (John Steinbeck).
Aku membayarnya dengan kartu debit yang dikonversi otomatis oleh pihak bank (alhamdulillah tidak ditolak lmao). Senangnya menjadi orang dewasa yang dilimpahi kehendak bebas (free will).
Di lantai bawah ada semacam stan pernak-pernik hasil karya para seniman. Dengan kehendak bebas itu pula kami membeli gantungan hape bercorak warna-warni. Selain itu, ada tote bag, lanyard ID card, case hape, tumblr, wadah kaleng, stiker, dan buku catatan. Kami menyadari semuanya lucu, jadi alih-alih membeli semua kami hanya menertawakan dan melupakannya setelah sampai di hotel.
Sayangnya mall punya jam tutup, jadi kami kembali jalan kaki menuju hotel. Kembali melewati Big C dan Platinum Mall yang masih ramai. Melipir dulu ke salah satu gerai 7-11 untuk jajan kudapan (aku membeli sebungkus beef burger yang dihangatkan dengan microwave) sambil melihat skincare kemasan travel yang lucu-lucu.
🍋 Hari 4 🍋
Sama seperti hari pertama, kami bertolak ke bandara menggunakan kereta layang dari stasiun Phaya Thai. Membawa pulang satu koper penuh berisi buku, pernak-pernik, dan cemilan.
Besoknya kembali bekerja di depan spreadsheet seraya mengemban janji kepada diri sendiri untuk bisa kembali ke Bangkok; kali ini dengan agenda khusus belanja-belanji karena bagaimanapun aku adalah orang dewasa yang dilimpahi kehendak bebas (yang juga bertanggung jawab secara finansial, tentu saja).

No comments
Terima kasih atas komentarnya, Kawan. Maaf dimoderasi dulu (ᵔᴥᵔ)