Powered by Blogger.

SEVENTEEN Right Here World Tour Jakarta: Konser Pertama yang Aju Nice


Ada orang pernah berkata bahwa pengalaman menonton konser serupa dengan pengalaman naik haji. Setelah merasakan sendiri bagaimana pengalaman ngonser di Jakarta International Stadium (JIS), aku tidak bisa tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Karena memang tak dapat disangkal, rasanya seolah sedang simulasi ibadah haji.

Semua ini bermula dari ajakan la petite sœur untuk kembali menonton konser Kpop yang lain; kali ini grup yang mendapat kehormatan adalah SEVENTEEN. Kadar pengetahuanku mengenai ini cukup minim—sebatas menyukai Vernon dan S.Coups (why, they’re all cute), pernah menonton beberapa episode Going Seventeen, dan tahu beberapa bagian lagu tapi tidak tahu judul. Lalu buat apa aku datang ke konser SEVENTEEN? Tentu saja untuk menikmati musik dan aksi panggung (dan menyaksikan Vernon dan S.Coups secara nyata).

Jadi, melalui semacam mutual agreement yang sebenarnya tidak pernah disebut langsung, la petite sœur bertugas untuk berangkat ke medan perang pembelian tiket. Dan alhamdulillah masih rezeki. Paw masih wangi. Berhasil mendapatkan dua tiket di yellow section. Kejadian ini berlangsung setelah kepulangan dari tamasya di Singapura.

Aku langsung merasa bokek setelah liburan terus beberapa waktu kemudian nekat mengeluarkan uang lagi untuk tiket konser??? Kak??? Aku gapapa??? Uang bisa dicari ya (alhamdulillah masih akan gajian), tapi kesempatan emas tidak boleh disia-siakan!!! Ingatlah, setiap uang yang dikeluarkan untuk menyenangkan diri sendiri kelak akan kembali lagi!!! [masukkan meme girl-who-is-going-to-be-okay di sini].

Aku menjalani bulan demi bulan sampai hari H tanpa menyadari bahwa konser SEVENTEEN kelak akan mengubah persepsiku tentang hidup. Satu minggu sebelum konser berlangsung, la petite sœur kembali mengemban tugas mulia untuk menukar tiket elektronik menjadi wristband di Lotte Mall Kuningan. Kelak kuketahui bahwa situasi di ticket booth sangat kacau sampai viral di media sosial.

Astaga, ini belum sampai di venue konser, tapi tingkat keimanan sudah diuji saja oleh promotor.

Setelah itu, kami sengaja bertemu di stasiun Gondangdia saat jam istirahat siang untuk rapat koordinasi mengenai persiapan konser, sekaligus penyerahan wristband. Berdasarkan testimoni orang-orang, ngonser di JIS lumayan melelahkan dan membutuhkan persiapan ekstra seolah akan berangkat perang. JIS terletak di utara Jakarta, dengan lalu lintas yang macet, akses jalan yang sempit, dan keterbatasan pilihan transportasi umum. Itu semua belum ada apa-apanya dibandingkan situasi setelah konser selesai, dengan pencopet yang mengintai di kerumunan dan pengendara ojek online yang mematok harga tinggi bahkan walau jarak hanya dua kilometer.

Beberapa hari menjelang konser, linimasa X-ku ramai dengan berbagai saran dan peringatan dari orang-orang yang sudah pernah ngonser di JIS. Dari mulai peringatan copet berseliweran di gerbang sampai petunjuk arah menuju JIS dengan transportasi umum beserta akses alternatif. Promotor konser mewajibkan setiap pengunjung memakai tas PVC alias jenis tas berbahan plastik yang transparan sehingga menampakkan berbagai jenis barang yang dibawa.

Ada akun yang menyarankan membungkus barang-barang itu dengan kantong dan dimasukkan ke dalam tas PVC. Ada juga akun yang menyarankan membawa semua barang dengan tote bag lipat atau tas belanja, lalu membongkar ulang sebelum masuk ke venue. Ada pula akun yang menyarankan memakai jaket dengan resleting yang dapat menutupi tas.

Setelah itu, muncul tutorial mempersiapkan barang-barang penting sebelum ngonser. Termasuk jas hujan dan kantong alas kaki harus siap sedia karena JIS adalah stadium luar ruangan. Sebagian besar setuju bahwa suhu di dalam JIS cukup panas, jadi di antara barang-barang penting itu juga ada kipas kecil elektrik dan handuk dingin sekali pakai. Poin utamanya adalah bawa banyak barang selagi tas PVC masih muat karena sesungguhnya kau akan berangkat perang alih-alih nonton konser!

Sebagai pengguna transportasi umum, aku mengikuti saran membungkus tas PVC dengan tas belanja. Tidak ada yang tahu aku akan berangkat ngonser kecuali sesama penumpang bus Transjakarta jurusan JIS. Aku membawa handphone, powerbank (yang baru kubeli demi konser), kipas kecil elektrik (yang juga baru kubeli demi konser), liptint dan lipbalm, dompet, kartu e-money (yang baru kuisi penuh demi perjalanan menuju utara Jakarta), jas hujan yang dilipat kecil dan dimasukkan ke dalam gantungan kunci berbentuk bola, dua bungkus handuk dingin sekali pakai, dan wristband.

Kami bertemu di Grand Indonesia untuk makan siang dan solat. Lagipula, Grand Indonesia dilewati bus Transjakarta koridor 1 yang menuju Monumen Nasional. Dari situ langsung lanjut naik koridor 14 menuju JIS. Setelah beberapa bulan hidup di Jakarta, sebisa mungkin aku menghindari jalur menuju Pasar Senen—yang juga tersedia bus langsung menuju JIS—karena MACET PARAH.

Ada alternatif lain, yaitu turun di stasiun Ancol dan lanjut jalan kaki atau naik ojek online (jarak dari stasiun ke JIS sekitar 2 km). Well, dengan sisa akal sehat aku membandingkan masing-masing jalur. Karena aku sudah familiar dengan koridor 1 dan sekitarnya, maka aku memutuskan untuk berangkat dari halte Tosari, naik bus koridor 1, dan turun di halte Monumen Nasional.

Mendarat di halte Monumen Nasional langsung disambut para petugas yang meneriakkan bus menuju JIS yang sudah tersedia, bahkan sengaja ditunggu sampai benar-benar penuh alias ngetem padahal di hari biasa tidak pernah begini. Serta merta bus dipenuhi warna-warna khas Carat alias paduan serenity dan rose quartz. Gemerincing gantungan tas membahana, wajah-wajah rupawan member dipamerkan dengan holder lucu. Aku berdiri diam di pojokan bus sambil memeluk tas belanja berisi tas PVC. Siapa sangka akses menuju JIS adalah definisi sesungguhnya dari highway to hell.


Jalan kecil sehingga kendaraan-kendaraan dari arah berlawanan harus mengalah. Bus terjebak macet sampai menjadi tontonan warga dan ojek-ojek online yang sengaja menepi. Yah, bayangkan deh bahkan berada di dalam bus saja tidak bebas dari catcalling. Di tengah jalan bertemu bus koridor 14 yang sama-sama membawa para Carat, sama-sama terjebak macet, menghibur diri dengan saling melambaikan tangan. Ada banyak Carat yang lebih memilih jalan kaki daripada terjebak macet sampai-sampai di halte sebelum JIS, si petugas menawarkan para penumpang untuk turun saja dan memilih pilihan yang sama.

Semacam permainan pick your struggle: terjebak macet atau jalan kaki di siang hari yang panas. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Tidak harus terjebak dengan kedua pilihan itu jika akses jalan diperbaiki, dan banyak pilihan transportasi umum tersedia. Ya sudah lah, hanya semacam daydreaming seorang warga negara yang taat membayar pajak.

Sampai di halte JIS depan Taman BMW bersimbah keringat. Sinar matahari membuat segalanya tampak putih, udara berdenyar, dan tampak kerumunan orang dengan payung di kejauhan. Pemandangan itu membuatku menyadari bahwa ngonser di JIS bisa dijadikan simulasi ibadah haji. Gerbang masuk dipenuhi penjual pernak-pernik konser, seperti kipas, gantungan kunci, boneka, dan photocard. Melihat ketiga belas member SEVENTEEN terpampang tak bercela dalam bentuk kipas membuatku tersipu. Astaga, bagaimana nanti setelah melihat langsung!!!

Aku membeli kipas raksasa harga 100 ribu dan gantungan kunci S.coups harga 50 ribu. Setelah puas melihat-lihat barang dagangan, kami menepi untuk membereskan tas dan memakai wristband. Konser dimulai jam 19:00, jadi untuk membunuh waktu kami mengantri beli es teh, mengklaim photocard gratis sebagai anggota klub fans SEVENTEEN, dan tentu saja berfoto dengan ketiga belas banner.

Bersama bapak ketua geng

Bahkan memasuki jam 17:00 cuaca masih panas dan terang benderang, kami sampai membeli banyak es teh untuk pelepas dahaga dan asupan gula. Menjelang jam 19:00 kami melaksanakan tawaf alias memutari hampir setengah stadium untuk mencari pintu masuk menuju tribun yellow section. Perjuangan tidak berhenti di situ karena kami masih harus mendaki puluhan anak tangga (untung saja sudah berbekal es teh).

Aku takjub mendapati suasana di dalam stadium. Oh whoa, it’s real!!! Dalam beberapa jam selanjutnya SEVENTEEN akan tampil di panggung!!!

Layar-layar raksasa sedang menampilkan video-video musik SEVENTEEN, dan sebagian besar penonton ikut bernyanyi. Walau stadium, bagian atas tidak dibuka dan hanya dilapisi semacam jaring. Langit sore masih terlihat, dan perlahan-lahan mulai gelap. Konser diawali dengan lagu Indonesia Raya—layaknya mengikuti upacara bendera. Kemudian member SEVENTEEN muncul dari belakang panggung, berpakaian serba hitam, diiringi hentakan drum (mereka punya live band!!! Keren sekali!!!). Fear menjadi lagu pertama yang dibawakan.

Aku langsung berkali-kali mengingatkan diri bahwa ini nyata. Bahwa momen ini sedang berlangsung. Bahwa SEVENTEEN berada di tempat dan waktu yang sama. Walau mereka tampak mungil dan aku hanya bisa melihat mereka melalui layar raksasa, pesona mereka berhasil membuatku tersipu-sipu dan salah tingkah.

Vocal Unit yang sedang menampilkan Cheers to Youth

Aku benar-benar tidak familiar dengan konser apapun, apalagi Kpop. Jadi, aku kembali takjub ketika mendapati adanya sesi perkenalan dan bincang-bincang setelah menyanyikan beberapa lagu. Bahkan ada sesi lawak yang membuatku heran, “Bentar deh ini lagi nonton konser atau lenong sih???” sekaligus terpingkal-pingkal. Diiringi penerjemah, satu persatu member SEVENTEEN memperkenalkan diri mereka (yang mungkin bagi penggemar lama sudah kenal betul, tapi bagiku yang hanya tahu S.coups, Vernon, dan Mingyu itu adalah salah satu momen mengesankan alias “Salam kenal ya!!! It’s nice to meet you too!!!”).

Aku takjub kembali ketika SEVENTEEN menampilkan Super. Sungguh meriah dan banyak kembang api! Woozi diangkat oleh beberapa member di bagian tengah, dan tepat ketika menyanyikan bagian “Ener-Energy” satu persatu kembang api diledakkan dari masing-masing sisi panggung. Agak takut sih karena bagian atas stadium tidak dibuka dan asap kembang api memenuhi depan panggung.

Setelah baca lirik, aku semakin menyukai Super karena selain menyebut Sonogong alias Sun Wukong alias rombongan kera sakti yang pergi ke Barat, rupanya Super adalah lagu apresiasi untuk setiap member dan kru SEVENTEEN. Bahkan ada seorang penonton yang bercerita melalui X tentang bapak sekuriti yang merasa terkesan dengan bagian “I love my team, I love my crew”.

Hoshi si Maunghae 

SEVENTEEN benar-benar menyayangi para penggemarnya dengan fan service yang menyenangkan. Untuk memberi waktu bagi para member mempersiapkan diri sebelum penampilan selanjutnya, para penonton diajak karaoke bersama! Layar menampilkan penggalan-penggalan lirik lagu, dan tiba-tiba digantikan dengan hasil sorotan kamera dari bangku penonton. Satu stadium serentak menjerit—malu, bangga, sekaligus bahagia karena berhasil masuk layar. Apalagi ada beberapa penggemar yang langsung berjoget heboh ketika lagu Aju Nice diputar—membuat para member sampai tertawa terpingkal-pingkal. Astaga, seru sekali!

Bahkan Seungkwan terjun ke tengah penonton, menyodorkan microphone, dan mengajak nyanyi bersama. Sungguh beruntung para penonton itu.

Setelah sesi bincang-bincang, lenong, dan nyanyi bersama, konser ternyata belumlah usai karena ada encore—sesi ketika penonton meminta tambahan penampilan di akhir acara. Para member berbaris di panggung, melambai sambil berpamitan sebelum layar tertutup dan panggung menjadi gelap. Beberapa saat kemudian layar menampilkan penggalan lirik Aju Nice beserta pesan untuk bernyanyi lantang dan semangat. Besarnya energi dari para penonton rupanya menentukan ada atau tidaknya encore (yang diam-diam kupercayai bahwa pada akhirnya sesi encore pasti akan diberikan juga sih).

Foto bersama para hewan yang merepresentasikan karakter member

Aku lega ketika para member muncul kembali dari balik panggung. Eh, loh, rupanya ada sesi ketika para member menaiki kereta-kereta untuk diarak mengelilingi stadium! Seraya menyanyikan Adore U dan ‘Bout You, para member menyapa para penonton dari mulai section pink (warga depan panggung persis) sampai green (warga tribun). Walaupun sekejap mengaktifkan mode halusinasi bahwa mereka tepat melambai ke arahmu, tapi sesi itu menyenangkan sekali. Apalagi diiringi Adore U dan ‘Bout You seolah sedang flirting (nah kan halu lagi).

Sepertinya memang ritual ala SEVENTEEN, setiap konser ditutup dengan Aju Nice yang bagian “Aju Nice!”-nya diulang berkali-kali sampai bisa dijadikan waktu penanda seberapa lama proses bubaran konser selesai. Setelah kubaca liriknya, rupanya memang tepat sekali Aju Nice menjadi lagu penutup. Walau bercerita tentang perasaan senang setelah kencan, tapi ada penggalan lirik di bagian terakhir yang seolah mengapresiasi kehadiran Carat di hari konser itu sekaligus berharap akan datangnya hari esok di mana para member SEVENTEEN bisa bertemu kembali dengan Carat.

I LOVE IT!!!

Kini ada sesi bincang-bincang lagi mengenai kesan-kesan para member di hari konser itu. S.coups bilang SEVENTEEN biasa ngonser di Indonesia dua kali dalam setahun (yang langsung disimak dan dicatat dengan baik oleh Carat); Mingyu bilang konser hari itu amat sangat panas membuat keringatnya mengalir sampai dua liter (yang langsung disetujui oleh Carat); Wonwoo masih mengingat tamasya ke Yogyakarta tempo hari (yang langsung diamini oleh Carat yang menganggap Wonwoo memang tipikal laki-laki Jawa idaman); dan Seungkwan yang memuji Megawati, atlet voli yang saat ini bermain di tim voli Korea Selatan (yang langsung membuat Carat takjub).


Ada satu momen yang akhirnya membawaku semakin dekat mengenal SEVENTEEN, yaitu ketika para member meminta Carat membuat ombak warna-warni dari lightstick, dan beberapa saat kemudian Carat serentak menyanyikan sebuah lagu. Tidak ada iringan musik atau para member yang ikut bernyanyi. Hanya ada para member diam di panggung sambil terpana mendengarkan.

Sepulangnya dari konser, aku mengetahui bahwa judul lagunya adalah Kidult. Aku semakin terharu dan terkesan setelah baca liriknya; tentang menyambut diri anak-anak di dalam diri dewasa kita, agar bisa menjalani setiap hari dengan ketakjuban dan harapan khas anak-anak. Sungguh menghangatkan hati.

Also DK’s high notes??? Membuatku merasa melayang dan mampu menaklukkan dunia!!!

Pada akhirnya konser selama dua jam harus berakhir. Layar kembali tertutup (kali ini para member benar-benar tidak akan muncul lagi), lampu-lampu dinyalakan, dan satu persatu penonton mulai bubar. Aku tahu situasi di luar pasti ramai dan agak kacau, jadi kami duduk-duduk dulu sebentar sambil menghabiskan es teh. Hampir jam 23:00, sudah melewati waktu tidur. Kini hanya ada rasa lapar yang menyertai, sekaligus memikirkan serangkaian jalur pulang alternatif. Apakah akan kembali menaiki bus koridor 14, atau pesan taksi online saja?

Kami mendapati sebagian besar stan makanan masih buka dan dipenuhi antrian. Situasi di gerbang keluar kacau sekali. Gerimis langsung menyambut kami yang berdesak-desakan menuju berbagai arah. Beberapa petugas memberitahu bahwa ada layanan shuttle gratis dari JIS menuju kantong parkir yang terletak kira-kira 2 km dari situ. Serta merta kami menuju lapangan parkir JIS yang hampir kosong melompong dan hanya diisi oleh beberapa shuttle van. Beberapa Carat sudah berdiri menunggu. Semakin larut malam, semakin panjang barisan Carat tapi shuttle tak kunjung datang.

Setelah hampir dua jam menunggu, sampai petugas memberi kami masing-masing sebotol air mineral, rupanya tidak pernah ada shuttle yang datang!!! Alasannya sih karena sudah larut malam dan jam kerja sudah selesai!!! Kami terlalu lelah untuk marah, jadi setelah mendengar kabar buruk tersebut satu persatu mulai memisahkan diri menuju berbagai arah. Entah berjalan kaki, atau menunggu bus, atau naik ojek online—yang penting bisa keluar dulu dari JIS.

Situasi di luar gerbang tidak lagi kacau dan ramai, tapi beberapa pengemudi ojek online secara bersahutan meneriakkan tawaran jasa mereka. Mengabaikan itu semua kami berjalan melewati setengah putaran JIS sampai tiba di halte depan Taman BMW. Ada bus koridor 14 yang sedang ngetem, jadi aku langsung naik dan melambaikan tangan kepada la petite sœur (dia akan pulang nebeng temannya). Bus dipenuhi Carat, beberapa petugas keamanan konser, dan beberapa penjual dengan bungkusan barang dagangan.

Hampir jam 01:00. Dengan lelah aku bersandar di tiang bus, berusaha sekuat tenaga untuk tetap sadar sampai tiba di halte Pasar Senen. Rupanya kalau jalan sedang lancar, jarak antara JIS dan Pasar Senen cukup dekat. Aku kembali menunggu bus menuju halte Monumen Nasional, kemudian berganti bus koridor 1 jurusan Blok M. Aneh sekali rasanya menjadi salah satu warga yang masih terbangun, naik-turun bus, menyaksikan jalanan di dini hari masih ramai (yah, kurasa inilah kehidupan kota besar).

Sebelum pulang ke kos, aku membeli burger dan kentang di restoran siap saji yang buka 24 jam. Setidaknya perutku mulai hangat dan kenyang. Kembali ke kamar kos jam 02:00—mengingatkanku dengan pengalaman malam tahun baru di Bundaran HI. Betapa ketersediaan akses transportasi dan keteraturan situasi crowd control bisa mengubah perjalanan beberapa menit menjadi beberapa jam. Betapa persepsi jarak dan waktu di Jakarta amat sangat berbeda. Betapa aku berharap bisa menonton konser SEVENTEEN selanjutnya di negara dengan akses transportasi yang layak dan teratur.

Esok harinya aku didera PCD—Post Concert Depression. Aku mulai menonton ulang hasil rekaman konser yang dipenuhi jeritan cemprengku, terpukau dengan video-video musik dan terbahak-bahak dengan episode-episode Going Seventeen, memasukkan banyak lagu berdasarkan genre dan vibe ke dalam satu playlist, kemudian mendengarkannya sambil membaca lirik layaknya mempelajari bait-bait puisi, dan serta merta lini masa media sosialku dipenuhi konten SEVENTEEN berkat algoritma.

Freebies dari Carat

Dan sekarang persepsiku akan hidup berubah. Tahun ini aku akan memasuki usia 30-an, dan menyaksikan lini 95 alias S.coups, Jeonghan, dan Joshua bersenang-senang menikmati hidup secara mengejutkan menimbulkan harapan di dalam diri. Bahwa semua akan baik-baik saja. Bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan kalau ada "teman-teman seangkatan" yang akan bersama menyambut dan menjalani kehidupan di usia 30-an.

Aku tidak tahu tahu apakah beberapa tahun selanjutnya SEVENTEEN masih akan tampil atau tidak (mengingat satu persatu member akan mengikuti wajib militer), tapi kehadiran mereka di dunia ini sudah cukup untukku. Aku senang memiliki kesempatan untuk mengenal mereka.

Also, menyaksikan ketiga belas member tampil dengan pesona mereka masing-masing—tetap menjadi diri sendiri tanpa terkesan jaga image—membuatku tersadar dan mulai meyakinkan diri sendiri, "If they've successfully set the standard, why would I want to settle for less?"

Baiklah, S.coups, selaku bapak ketua geng. Kini aku berpegang teguh pada omonganmu. Layaknya lirik terakhir Aju Nice:

I had a great day today
I hope to have our next date soon
The way to your house is too short
I'll see you, same time tomorrow

Obat ampuh dari PCD adalah menonton konser SEVENTEEN lagi, tentu saja. Karena satu kali tidaklah cukup! 🪩

No comments

Terima kasih atas komentarnya, Kawan. Maaf dimoderasi dulu (ᵔᴥᵔ)