
Tidak pernah terpikir olehku sebelumnya bahwa merayakan malam tahun baru di Bundaran HI termasuk ke dalam paket pengalaman hidup di Jakarta. Tidak pernah ada yang istimewa jika berkaitan dengan tahun baru; hidup tetap berjalan sebagaimana mestinya setelah waktu melewati 23:59. Tapi, setelah menghabiskan malam di tengah lautan manusia, sambil terpukau memandang langit yang terang benderang oleh kembang api, aku memikirkan ulang pendapat pahitku mengenai malam tahun baru.
Mungkin karena sekadar berbasa-basi, di sore hari sebelum jam pulang kantor orang-orang bertanya, “Malam tahun baru mau ke mana?”
Well, oke. Apa yang biasa orang-orang normal lakukan di malam tahun baru? Berkumpul bersama teman atau keluarga di ruang terbuka sambil membakar aneka daging? Memesan pizza dan minuman soda berukuran besar? Marathon menonton film? Meringkuk ke dalam selimut hangat dan esok harinya tahu-tahu sudah tanggal satu?
Aku tidak pernah merasa normal jadi kujawab, “Di kosan aja” sambil tertawa canggung.
Rupanya jawaban itu mengecewakan mereka. Oke, aku salah strategi kali ini dalam berinteraksi.
Mungkin karena berangkat dari rasa kepedulian terhadap si anak baru yang merantau ke Jakarta, mereka menyarankan untuk merayakan malam tahun baru di Ancol, atau yang lebih dekat, Bundaran HI. Aku hampir lupa bahwa kota ini tidak pernah mati, pusat segala impian umat manusia; jadi sudah pasti akan selalu ada hiburan di setiap sudut. Apalagi malam tahun baru.
Akhirnya secara impulsif—tanpa pernah mengira medan yang akan kuhadapi nanti—aku pergi merayakan malam tahun baru ke Bundaran HI. Aku mulai berjalan kaki dari kosan jam 20:30, setelah memastikan perutku sudah kenyang (aku tahu di sana akan ada banyak penjual makanan, tapi aku tidak ingin berangkat dengan kelaparan).
Salah satu keuntungan tinggal di kosan dekat Bundaran HI dan sekitarnya, ketika bubaran nanti aku tidak perlu memikirkan ketersediaan transportasi umum atau motor untuk pulang.
Gang depan kosan sudah ditutup dengan palang—pejalan kaki masih bisa lewat di pinggir. Di sepanjang jalan orang-orang mulai memarkir motor di kantong-kantong parkir dadakan. Aku berjalan bersama para warga—tua, muda, anak-anak—melewati jalanan yang di hari biasa selalu ramai, kini di malam tahun baru semakin ramai.
Setelah sampai di jalan sebelah barat Plaza Indonesia, aku terkaget-kaget. Pemandangan di depanku berupa lautan manusia. Bahkan belum sampai perimeter Bundaran HI, aku tidak bisa lanjut jalan karena arus lalu lintas pejalan kaki terhenti di situ.
Sebagian besar orang duduk-duduk di sekitar petak-petak tanaman, sebagian besar lainnya berdiri sambil merekam situasi terkini dengan hape, beberapa mulai nekat membelah lautan yang akhirnya kembali menimbulkan pergerakan arus.
Kulirik jam dan ternyata belum menunjukkan 21:00. Ya ampun, orang-orang sudah di sini dari jam berapa ya 😭. Seketika aku menyesali keputusan datang ke sini. Mengapa aku harus repot-repot menyiksa diri sendiri sih! Sialan, seharusnya aku rebahan di kosan saja sesuai rencana awal!

Karena terdorong oleh pergerakan arus, aku pun lanjut jalan. Berkali-kali aku menghibur diri sendiri sebagai salah satu mekanisme pertahanan diri bahwa aku bisa menganggap ini sebagai simulasi ibadah haji. Bahwa situasi serupa akan kuhadapi kelak beberapa puluh tahun kemudian (maksudnya berdesak-desakan di tengah lautan manusia).
Awalnya pergerakan memang lambat, tapi tiba-tiba ada dorongan dari barisan belakang sehingga ruang gerak semakin terbatas. Aku berusaha menyeimbangkan diri. Bahkan memori otot yang terbiasa terayun-ayun di dalam bus atau kereta pun tidak berguna. Seseorang berteriak, “Woi, ga usah dorong-dorong!” dan memicu seruan setuju dari orang-orang yang sudah kesal karena harus terjebak di tengah situasi ini (after all, we all voluntary had chosen this, right 😭).
Seisi tubuhku waspada akan kemungkinan terburuk: stampede. Aku langsung teringat satu insiden di Korea Selatan yang dulu pernah terjadi. Kepalaku penuh dengan, “What to do what to do what to do”.
Di tengah situasi hidup-mati itu aku menyaksikan kepanikan sesaat dari salah seorang turis asing yang rupanya kehilangan hape. Dan sekarang ada tugas lain yang harus kulakukan; memeluk tas selempang-ku erat-erat yang isinya tidak seberapa. Waduh, pokoknya hape jangan sampai hilang! Bayangkan seberapa banyak waktu dan kuota terbuang percuma untuk mengatur dan meng-install ulang aplikasi-aplikasi.
Aku tidak tahu kelanjutan kepanikan itu. Semoga si turis bisa menemukan kembali hapenya yang hilang.
Jam 22:00 aku akhirnya sampai di perimeter Bundaran HI. Kini pemandangan di depanku berupa patung dua pemuda Selamat Datang tanpa terhalangi apapun dan gedung hotel Mandarin Oriental menjulang di latar belakang. Aku masih belum bisa melihat panggung utama, hanya bisa mendengar riuh rendah suara para pembawa acara dan artis. Orang-orang mulai duduk beralaskan aspal, aku pun mengikuti.
Yah, lumayan lah menunggu dua jam sambil mendengarkan Yura dan RAN tampil.
Tak berapa lama timbul kepanikan di barisan depan. Beberapa petugas berseragam mendekat. Kukira ada apa, rupanya seseorang berteriak, “Pak, pak, ada yang pingsan!” Astaga, aku kembali waspada. Aku mengerahkan seluruh kesadaranku untuk tetap kuat, menghirup banyak-banyak oksigen yang masih tersedia, seraya bergumam please jangan sampai pingsan it would be embarrassing 😭✋.
Aku menyaksikan seseorang digotong dengan tandu. Lautan manusia terbelah sejenak, pandangan mereka mengikuti petugas-petugas yang berlalu. Seketika orang-orang kembali tenang dan menikmati musik. Dua anak di depanku saling bergandengan tangan dan menari mengikuti alunan musik. Aku berpikir jika mereka aman, maka aku pun aman. Jadi, duduk di atas aspal aku mendengarkan lagu-lagu populer RAN yang pernah menjadi favoritku ketika masa-masa SMP.
Malam itu langit cerah. Pandangan nanar kutujukan kepada orang-orang di dalam gedung dan hotel sekitar yang turut menonton dari jendela. Rasa iri langsung terbesit. Wah, betapa beruntung bisa menyewa kamar sehingga tidak perlu berdesak-desakan! 😭
Mendekati tengah malam, pembawa acara mulai mengarahkan penonton untuk menyaksikan pertunjukkan drone tepat di atas patung dua pemuda. Semua orang serempak berdiri, mengangkat hape tinggi-tinggi melampaui kepala orang-orang, dan menunggu dengan antusias.
Tapi, sayangnya pertunjukkan drone tidak lekas tampil. Bahkan setelah tepat jam 00:00. Hanya ada letusan kembang api yang tak putus-putus di langit. Aku tidak tahu apakah karena panitia menunggu kembang api reda sehingga tidak mengganggu pergerakan drone, atau karena masalah teknis. Yah, apapun itu aku menikmati saja pemandangan di depan mata.
Ketika sedang asyik mengarahkan kamera hape ke atas patung dua pemuda, tiba-tiba gedung sebelah—Wisma Nusantara—turut memeriahkan malam tahun baru dengan kembang api yang jauh lebih menakjubkan!
Oh wow, tentu saja. Gedung setinggi itu adalah tempat yang sempurna untuk meledakkan kembang api. Serta merta beberapa orang langsung mengarahkan kamera ke atas gedung Wisma Nusantara.

Aku terharu karena mengingat beberapa kali aku pernah berjalan melewati gedung ini ketika pulang kerja. Rupanya ini adalah salah satu bangunan bersejarah—gedung pencakar langit pertama yang dibangun di Indonesia dan Asia Tenggara.
Aneka warna hijau, kuning, jingga, merah menerangi langit. Ada yang berbentuk air mancur seperti rambut ondel-ondel, ada yang menjalar seperti ular kemudian meledak membentuk air mancur. Di mana-mana terdengar tiupan terompet, ledakan kembang api, gegap gempita orang-orang, pembawa acara yang berkali-kali meneriakkan, “Selamat tahun baru!”
Masih dipenuhi perasaan haru dan takjub, aku langsung membisikkan harapan konyol semoga tahun depan bisa merayakan malam tahun baru di New York. Sekalian bisa melihat pohon natal Rockefeller Center seperti Kevin McCallister di Home Alone 2. Entahlah bisa terwujud atau tidak, menghayal saja dulu ygy.

Setelah keriuhan reda, aku mulai putar balik pulang menuju kosan. Melewati jalan yang sama seperti kedatangan tadi, aku kembali terjebak di barat Plaza Indonesia. Orang-orang berpikiran secara serempak untuk pulang lebih awal. Arus tak kunjung bergerak, kembali timbul dorongan dari barisan belakang yang kini lebih mendesak.
Semakin malam, orang-orang semakin kesal sampai meneriakkan sumpah serapah.
Teriakan, “Woi, maju dong!” berkali-kali terdengar dari barisan belakang, dan dibalas, “Woi, jangan dorong-dorong! Ada anak kecil nih!” dari barisan depan. Aku merapat dan berpegangan pada ujung baju orang di depanku. Kembali berusaha menahan diri agar tidak jatuh. Peduli amat, ini situasi hidup-mati!
Tiba-tiba langit di belakang Plaza Indonesia dipenuhi benda berwarna-warni yang bergerak dalam koordinasi tertentu. Oh, ini dia pertunjukkan drone-nya! Rupanya panitia memindahkan lokasi karena ledakan kembang api di Bundaran HI tak kunjung berakhir. Di sini langit lebih tenang, walau jarak pandang tidak terlalu luas.
Orang-orang kembali menunggu dengan antusias. Mengarahkan kamera hape, sejenak melupakan kekesalan mereka. Pertunjukkan dibuka dengan kata-kata, “Kirana Jakarta 2025 Citivision” yang langsung disambut dengan meriah oleh orang-orang. Kemudian drone-drone bergerak memisah dan menyatu kembali membentuk dua kepala ondel-ondel yang tersenyum.
Selanjutnya muncul serangkaian iklan sponsor yang disambut tawa geli dari orang-orang (melalui iklan ini pula disampaikan pesan layanan masyarakat yang memberitahukan pergantian nama salah satu brand toko peralatan pertukangan).
Drone-drone mulai membentuk serangkaian angka layaknya hitungan mundur. Walau sudah merayakan tahun baru (bahkan sudah lewat 20 menit dari jam 00:00), tapi orang-orang kembali antusias dan ikut berhitung.
Setelah jeda sebentar, terbentuk kata-kata, “Happy New Year 2025” dengan bendera merah putih yang langsung disambut tiupan terompet, tepuk tangan, dan sorak sorai.
Keren!
Kukira yang dimaksud pertunjukkan drone adalah gambar-gambar yang diproyeksikan ke langit. Seperti melihat slide presentasi. Oh, rupanya drone-drone yang bergerak membentuk suatu gambar. Walau awalnya aku agak takut drone-drone itu malah akan membentuk pengumuman perhitungan peserta yang tersisa seperti Hunger Games 😭✋.

Pertunjukkan drone sudah selesai, sekarang saatnya melanjutkan perjalanan pulang. Di hari biasa waktu tempuh dari Bundaran HI menuju kosan hanya 15 menit. Malam itu aku merasa perjalanan sangat panjang dan melelahkan.
Arus pejalan kaki terhenti di jalan besar sebelum masuk gang kosan.
Aku kira jalur ini tidak akan dipilih orang-orang, rupanya aku lupa bahwa area-area pinggir jalan diubah sementara menjadi kantong parkir. Sudah pasti orang berduyun-duyun pergi untuk mengambil motor. Sampai-sampai terjadi perselisihan antara akamsi, para pejalan kaki, para pengendara motor dan mobil—situasi kacau; saling berebut jalan (berdebat siapa yang harus mengalah duluan).
Aku terjebak dengan pasrah (aku kembali mengingatkan diri sendiri bahwa secara sadar aku telah memilih medan ini). Bajuku lengket oleh keringat. Kakiku lelah berdiri. Pikiranku bagai diselubungi kabut. Orang-orang mulai memprotes dan nekat menerobos.
Pikiran impulsif menyusup. Bagaimana kalau bablas jalan saja sampai Tanah Abang dan putar balik dari sana? Tak apalah lebih jauh, yang penting jalan terus.
Ketika sedang sibuk mempertimbangkan, seorang bapak yang berdiri di belakangku berkata dengan sikap ala stoik, “Yuk, jalan pelan-pelan, yuk. Satu langkah aja gapapa.”
Dan anehnya bagai mantra arus mulai bergerak kembali secara perlahan.
Si bapak melanjutkan, “Nah, begitu. Satu langkah aja sedikit demi sedikit.” Benar, Pak, one step at a time. Di tengah jalan arus mulai normal. Aku tidak perlu berdesakan lagi dan bisa berjalan dengan aman sampai kosan.
Jam 02:00 aku kembali berada di dalam kamar. Astaga, aku menghabiskan dua jam hanya untuk perjalanan pulang! Jalan kaki! Luar biasa!
Aku langsung merendam baju dan tas dengan deterjen (aku tidak sanggup membayangkan ada seberapa banyak mikrobia patogen dari keringat dan sentuhan yang telah menempel di situ). Setelah merasa bersih dan kamar dingin oleh AC, akhirnya tubuhku bisa bertemu kembali dengan kasur.
Seketika aku tertidur—setelah mengunggah rekaman kembang api di Instagram stories karena dunia harus tahu hasil perjuanganku menembus lautan manusia.
Dan mengenai pendapat pahitku tentang malam tahun baru?
Aku bersumpah cukup sekali ini saja merayakan malam tahun baru di Bundaran HI—dan tempat-tempat publik lainnya di seantero Jakarta.

No comments
Terima kasih atas komentarnya, Kawan. Maaf dimoderasi dulu (ᵔᴥᵔ)