Powered by Blogger.

Chasing the Jakartan Dreams: Debutku di Dunia Konser Kpop


Menonton konser adalah salah satu agenda dalam program “Chasing the Jakartan Dreams”; selain membaca buku di perpustakaan kota, berolahraga di GBK, CFD-an setiap Minggu pagi, berkunjung ke pameran buku dan instalasi seni, dan bepergian naik transportasi umum setiap hari.

Perpindahan kerja ke Jakarta membawa serta “impian-impian Jakarta” yang pernah terbesit di pikiranku sejak melintasi jalan tol lingkar dalam sepulang dari IKEA—terpukau mendongak menatap gedung-gedung pencakar langit sambil membayangkan bekerja di dalam kubikel tapi setidaknya bisa berbelanja perlengkapan rumah hanya dengan menunjuk-nunjuk semudah memilih lauk di warteg.

Yah, sampai sekarang aku masih belum bisa berbelanja di IKEA sambil menunjuk-nunjuk sih, tapi setidaknya wishlist-ku sudah tercoret satu.

Berawal dari ajakan ma petite sœur—seorang Kpoper tulen—untuk menonton konser bertajuk City Camp dengan panggung hiburan berisi ATEEZ, Lee Hi, dan BTOB di situ aku mulai terbawa arus. Loh, rupanya menonton konser itu menyenangkan ya!!! Sekarang aku mengerti mengapa orang-orang rela mengeluarkan sejumlah uang untuk konser. Karena memang sepadan dengan pengalaman dan core memories yang akan didapat.

Aku senang mendapati orang-orang bersenang-senang. Life sucks, but at least there is a Kpop concert tonight. Sumpah, aku tidak mendengarkan Kpop on daily basis. Lalu buat apa aku datang ke konser? Loh, ya tentu saja untuk menikmati musik dong!!!

Terima kasih kepada ma petite sœur yang secara tekun memutar lagu-lagu ATEEZ, jadi aku tidak terlalu clueless dengan playlist-nya. Sepanjang konser aku menerapkan sikap “oh-aku-tahu-lagu-ini-tapi-tidak-tahu-judulnya”. Sisanya yah terpukau dengan aksi-aksi panggung yang luar biasa dan tersipu dengan wajah-wajah rupawan para cokipop.

City Camp diselenggarakan di Indonesia Arena Senayan GBK. Naik MRT dari Bundaran HI sampai Senayan, lalu lanjut berjalan kaki menuju TKP. Melewati mall fX Sudirman (oh jadi ini tempatnya toh kalau ingin nonton JKT48), masuk area GBK dari Pintu Satu, jalan terus sampai melewati stadium utama GBK yang ternyata akan menyala dengan warna-warni neon di malam hari (oh jadi ini tempatnya toh kalau ingin lari).

Setelah memakai gelang tiket yang sudah ditukar dengan tiket elektronik beberapa hari sebelumnya, kami memasuki pintu masuk area. Melewati proses pengecekan beberapa kali oleh petugas (terutama memastikan tidak boleh membawa makanan dan minuman ke dalam area), dan mendapat snack gratis dari sponsor acara. Bahkan panitia-nya menawarkan untuk ambil yang banyak karena stok masih melimpah. Sungguh mengesankan.


Konser dimulai jam 19:00, setelah agenda ishoma selesai (loh ada ishoma juga??? Bagus!!!). Jadi, sambil menunggu kami berkeliling dulu melihat area stan penjual makanan. Ada makanan kaki lima ala Korea, pizza, rice bowl, minuman segar berwarna-warni, dst dsb dll. Stan antri panjang di mana-mana, dan akhirnya membeli dimsum dan siomay sebagai pengganjal perut. Setidaknya agar tidak terlalu lapar amat nanti.

Penonton boleh membawa tumblr ke dalam area, tapi sayangnya tidak tersedia tempat pengisian air minum. Jadi, tetap harus beli minuman kemasan deh.

Ternyata penonton konser Kpop sangat beragam—ada anak-anak, bapak-bapak, ibu-ibu, kakak-kakak dengan pakaian lucu dan riasan wajah cantik. Definisi sesungguhnya dari musik adalah bahasa universal yang mudah dipahami dan dinikmati bersama.

Setelah ngaret 15 menit, akhirnya konser dimulai dan anggota BTOB satu-persatu keluar ke atas panggung. Penonton mulai meneriakkan nama masing-masing anggota dengan sukacita, layar besar di atas panggung menampilkan BTOB dari dekat, dan aku amat sangat terpukau! Astaga, kok bisa ganteng-ganteng semua gitu ya??? Aku memandangi wajah mereka satu persatu sambil mengangguk-angguk paham.

Pengaturan lampu-lampunya menakjubkan, seolah mereka juga ikut menari mengikuti irama dan hentakan lagu. Semakin meriah pula dengan percikan-percikan api yang menyala di pinggir panggung. Ada sesi perkenalan masing-masing anggota grup (aku sangat mengapresiasi ini sebagai seorang amatir yang belum kenal siapapun), dan sesi percakapan santai yang diiringi penerjemah (wow, terima kasih, amat sangat membantu!).

Setelah BTOB, lanjut penampilan Lee Hi. Ketika keluar ke atas panggung aku kembali terpesona. Astaga, kok bisa ya ada orang secantik itu??? Nah, aku lumayan mengenal lagu-lagu Lee Hi. Saat menyanyikan Only, panggung langsung dihujani confetti kertas merah muda. Aduh, makin romantis hueee!


Semakin malam, semakin meriah karena ATEEZ yang paling ditunggu. Bahkan ketika sesi perkenalan aku bisa mengetahui siapa yang paling menjadi idola dari seberapa kerasnya jeritan para penonton. Ditambah para kameramen yang sepertinya agak usil dengan beberapa kali sengaja menyorotkan kamera ke si idola agar wajahnya sering tampil di layar. Aku kembali mengangguk-angguk paham. Aku tidak bisa menyalahkan pendapat mereka.

Overall, konsernya meriah sekali! I had so much, much fun!


Penonton Kpop sangat sopan dan tertib. Aku jadi belajar cara memegang ponsel sejajar dengan mata; tidak terlalu tinggi sampai menghalangi orang lain dan tidak terlalu rendah sampai tidak kelihatan. Aku jadi belajar cara antri masuk dan keluar area (teratur dan tanpa berdesak-desakan). Aku jadi mengenal kategori-kategori tiket dengan warna dan harga berbeda. Paham perjuangan memperebutkan tiket (yang pada akhirnya really worth the pain eh struggle).

Aku tidak mengerti mengapa ada orang-orang yang julid mengenai agenda nonton konser. Selama untuk menyenangkan diri sendiri (dan memakai uang sendiri), mengapa tidak? They all deserved it! They all know how to have fun(ds)!



Selama ini aku mengetahui bahwa menonton film dengan pelantang suara Dolby Atmos sudah menjadi pengalaman suara terbaik yang pernah kurasakan. Rupanya menonton konser jauh lebih menakjubkan. Apalagi ini mendengarnya dari penyanyi langsung; tidak lebih berbeda daripada versi rekaman di layanan streaming (bahkan jauh lebih bagus).

Sepulangnya dari konser hampir dini hari setelah naik MRT terakhir. Hati senang tapi perut lapar. Jadi membeli sandwich di Sarinah untuk makan malam terlambat. Untunglah restorannya buka 24 jam.

Well, here’s to more concerts in the future 🙌 (dan semoga diimbangi pula dengan cash flow yang lancar).

No comments

Terima kasih atas komentarnya, Kawan. Maaf dimoderasi dulu (ᵔᴥᵔ)