
Agenda JJS (Jalan-jalan Senang/Sebentar) kali ini adalah mengunjungi Singapura. Sudah sekian lama menjadi wacana sejak Taylor Swift mengumumkan Eras Tour di sana. Sayangnya kalah perang tiket duluan jadi dengan besar hati aku berpikir mungkin suatu hari bisa ke Singapura lagi dalam rangka tamasya alih-alih menonton konser.
Karena sekarang tempat kerjaku yang baru punya banyak tanggal merah di kalender (cheers to that! 🥂), jadi tanpa pikir panjang (impulsif, sebenarnya) aku langsung memesan tiket ke Singapura. Sekaligus merayakan diri sendiri karena berani mengambil keputusan besar di tiga bulan terakhir tahun 2024. Lagipula paspor baru saja diperbarui, masa dianggurin begitu saja?
Singapura punya banyak destinasi wisata, bahkan sekarang ada paket tiket masuk murah untuk beberapa destinasi populer yang bisa dibeli di Klook. Aku sampai bingung menyusun itinerary untuk tiga hari dua malam. Akhirnya, destinasi utama yang menjadi pilihan adalah Universal Studios Singapore.
Aku hanya ingin naik roller coaster, merasakan angin menerpa di ketinggian, dengan jantung mencelus sambil berteriak lantang merayakan kebebasanku. Yah, sekaligus bertemu karakter-karakter film, siapa tahu King Julien dkk masih ada.
Kalau ada waktu senggang mengunjungi destinasi-destinasi lain seperti Orchard Road, Merlion Park, atau museum/galeri nasional. Tapi, itu dipikirkan nanti saja sambil jalan alias kumaha engké.
🎢 Hari 1 (CGK-SIN)🎢
Setelah membuka banyak tab di browser untuk membandingkan harga termurah berdasarkan maskapai, aku memilih jadwal penerbangan sore dari CGK. Ini adalah perjalanan on budget alias tiket pesawat hanya meliputi bagasi kabin 7 kg (hence way cheaper!), jadi kami benar-benar mengemas koper dengan ringkas dan cermat.
Walau sudah beberapa kali pergi ke luar negeri, aku selalu overthink setiap akan melewati area imigrasi karena takut ditolak. Padahal tidak berbuat sesuatu yang mencurigakan atau melanggar hukum (yah, beginilah dukanya menjadi pemilik paspor lemah 😭).
Malam sebelum terbang mengisi kartu kedatangan dulu secara daring (alhamdulillah setidaknya bisa di-screenshot melalui hape jadi tidak perlu takut kartunya hilang atau terselip di suatu tempat sampai ditahan di imigrasi seperti kejadian dulu 🥹).
Sekarang tidak ada lagi cap kedatangan di halaman paspor karena bandara Changi sudah menerapkan sistem auto gate. Cukup pindai halaman identitas paspor, mengarahkan pandangan ke depan kamera, pindai sidik jari, proses verifikasi, dan SELESAI! Amat sangat praktis dan cepat! (Melalui keseluruhan proses tersebut masih sambil overthink dan jantung berdebar—again, karena takut ditolak).
Lega setelah berhasil melewati imigrasi, lanjut naik shuttle bus dari Terminal 4 ke stasiun MRT di Terminal 2. Gratis. Bus datang tepat waktu sesuai jadwal yang terpampang di layar ruang tunggu.
Stasiun tujuan adalah Little India, tempat hotel kami menginap (dipilih berdasarkan rekomendasi internet). Melalui petunjuk arah dari aplikasi Citymapper, kami harus transit dulu di stasiun Tanah Merah, kemudian ambil MRT jalur hijau East-West Line untuk lanjut sampai Little India.
Agak culture shock karena semua orang berjalan cepat—tapi tidak terlihat seperti terburu-buru—dan eskalator ngebut sampai harus berhati-hati menempatkan kaki. Kukira aku sudah cukup tangguh hidup di Jakarta, dan percaya diri mampu menyesuaikan dengan ritme hidup Singapura. Rupanya ini adalah tantangan baru.
Nah, sekarang aku sudah paham membaca peta jalur MRT Singapura, so Japan here I come soon yah!
Sampai di Little India hampir tengah malam. Toko-toko sudah tutup, tapi masih banyak orang berlalu lalang. Setelah urusan check in selesai, kini saatnya urusan perut. Bertumpu pada lokasi Google Maps yang sudah ditandai, kami menemukan restoran dekat hotel yang masih buka—sepertinya buka 24 jam.

Memesan nasi goreng porsi besar untuk berdua seharga SGD 6 dan limau panas seharga SGD 1 (rasanya menghangatkan perut dan menenangkan saraf setelah usaha naik-turun MRT sambil membawa koper).
Setelah kenyang kembali ke hotel, mempersiapkan diri untuk bersenang-senang yang sesungguhnya di hari besok.
🎢 Hari 2 (Merlion Park-Universal Studios) 🎢
Disambut hujan deras di pagi hari. Cemas karena gagal pergi ke Universal Studios. Pikiran impulsif langsung menyusup, “Hujan-hujan begini enaknya rebahan saja di hotel gak sih?”
Yah, karena tidak ingin membuang tiket secara percuma, tentu saja agenda pergi ke Universal Studios harus terwujud. Bisa sih kalau nekat menerobos, tapi beli payung dulu. Setelah mandi dan bersiap, memulai hari dengan sarapan aka the most important meal of the day karena kalau dengan senyuman nanti jam 9 sudah lapar lagi. Hotel tidak menyediakan sarapan, jadi memutuskan untuk mencari makan di sekitar.
Kembali bertumpu pada Google Maps, menemukan gerai 7-11 di dekat hotel (kira-kira berjarak 100 meter). Makanan-makanan siap saji yang dijual terlihat enak semua. Ada roti isi, kue, pastry, onigiri, spaghetti, serta kopi dan teh.
Beli roti isi telur, onigiri, dan muffin untuk sarapan (setelah memastikan ada logo halal tertera di kemasan), dan payung untuk dipakai nanti. Setelah menghangatkan makanan di microwave, kami makan sambil berteduh di depan 7-11.
Tidak lama kemudian hujan reda dan cuaca cerah. Sinar matahari pagi menerpa di jalanan basah. Sudah kepalang beli payung seharga SGD 20—yang tidak perlu dikonversi ke IDR agar tidak overthink—tapi setidaknya payungnya lucu bergambar tokoh-tokoh Pokemon.
Memang dasar mudah tergoda dengan jajanan (berpegang teguh pada prinsip: jajan mati, tidak jajan tetap mati jadi mending jajan saja), setelah perut terganjal kami memutuskan untuk pergi ke Tekka Centre. Semacam pasar tradisional dengan lapak-lapak sayur-mayur, daging, dan buah yang sudah sibuk berjualan.

Di area sebelahnya ada food court dengan warung-warung makanan khas India, Pakistan, Melayu, dan Cina. Karena Tekka Centre terletak di Little India, jadi didominasi makanan khas Asia Barat.
Area makanan halal dan non halal terpisah, bahkan tempat meletakkan nampan setelah selesai makan juga terpisah. Untuk ronde kedua (second breakfast, ahem, karena aku seorang hobbit) memesan prata coklat, es kopi, dan es mangga.
Prata adalah semacam roti pipih yang dipanggang dengan minyak seperti martabak. Ada pilihan rasa gurih dengan isian telur atau sosis dilengkapi kuah kari daging, dan manis dengan isian saus coklat atau pisang. Sarapan sederhana yang enak dan cukup mengenyangkan.

Karena ada waktu senggang dan Universal Studios baru buka jam 10:00, kami memutuskan untuk melaksanakan mandatory tourist pic dulu di depan patung singa putih sekaligus menahbiskan fakta bahwa beneran sudah menginjakkan kaki di Singapura.
Kembali berbekal petunjuk arah dari aplikasi Citymapper, naik bus nomor 131 dari halte Little India ke halte Aft Esplanade Stn Exit D (dekat Merlion Park). Interior bus di Singapura lucu sekali didominasi warna fuchsia. Proses tap in dan tap out kartu sangat cepat! Hanya 1 detik dong! Tidak ada delay atau loading, dan suaranya nyaring.
Kami menggunakan kartu debit Jenius yang sudah diisi saldo dengan SGD untuk pembayaran bus dan MRT. Rupanya jika ingin berhenti di halte tertentu harus menekan tombol berhenti dulu yang tersedia di samping kursi.

Merlion Park dipenuhi turis yang saling bergantian foto dengan pose seolah meminum atau menyemburkan air. Cuaca amat sangat panas dan terang benderang, kontras dengan cuaca tadi pagi ketika masih di hotel. Di kejauhan tampak gedung kembar tiga Marina Bay Sands, ArtScience Museum, dan bianglala Singapore Flyer. Di sepanjang jalan menuju area patung Merlion berjejer petak bunga bougenville. Sungguh menyenangkan melihat warna fuchsia di hari yang cerah.
Setelah puas memenuhi galeri hape, kami kembali ke halte awal untuk bertolak ke arah Sentosa Island. Sampai di halte HarbourFront, kami mengikuti rombongan turis yang tampaknya juga akan menyeberang ke Sentosa Island. Ada dua cara yang bisa ditempuh untuk menuju ke sana: satu, naik MRT di stasiun Vivo City; atau dua, jalan kaki menyusuri Sentosa Boardwalk dari mall Vivo City.
Di sini girl math mulai berperan penting (daripada bayar SGD 4 mending untuk makan), jadi kami memutuskan untuk jalan kaki. Di dalam mall tersedia petunjuk arah menuju Sentosa Boardwalk. Jarak dari mainland menuju Sentosa Island kira-kira 500 meter.
Sentosa Boardwalk berupa jalur pejalan kaki dengan kanopi (sehingga tidak akan terasa panas!) sekaligus bisa menikmati pemandangan pinggir laut dengan semilir angin. Bahkan bisa melihat MRT mungil yang sedang melaju di seberang. Jarak 500 meter tidak akan terasa, tahu-tahu sudah menginjakkan kaki di Sentosa.
Akhirnya bola dunia ikonik Universal Studios tampak di depan mata!

Setelah memindai tiket di gate, kami memasuki zona Hollywood dan New York dengan pertokoan dan gedung yang disemarakkan oleh tokoh-tokoh dari Despicable Me, Sesame Street, dan… Hello Kitty beserta geng Sanrio. Wahana pertama yang kami datangi adalah Lights, Camera, Action! karena kata-kata “Hosted by Steven Spielberg” berhasil menarik perhatian.
Rupanya ini adalah semacam presentasi mengenai efek-efek spesial yang dipakai di film. Kami berdiri menonton di barisan paling depan. Tampak area yang ditata dengan dekorasi seolah sedang berada di pelabuhan. Awalnya terdengar suara di radio yang mengabarkan cuaca badai di kota, tapi tiba-tiba muncul angin kencang sampai-sampai menerbangkan beberapa barang.
Karena badai yang mengacaukan segalanya, mungkin ada minyak tumpah sehingga api menjalar entah dari mana. Bahkan air laut yang tenang langsung dipenuhi api. Studio yang tadinya adem dan gelap serta merta menjadi panas dan terang! Menegangkan!
Belum selesai terkaget-kaget dengan pertunjukkan itu, tiba-tiba salah satu dinding studio terbuka dan menampakkan bagian haluan kapal besar yang bergerak semakin cepat mendekati tempat kami berdiri! Seolah-olah si kapten sudah tidak bisa mengatur kemudi karena terbawa badai. Kami secara refleks menjerit panik sebelum kapal itu berhenti.
Pertunjukkan selesai. Studio menjadi tenang kembali dan petugas mengucapkan selamat berpisah kepada para pengunjung. Kami tertawa-tawa senang sekaligus geli karena sudah bersikap dramatis. Setelah keluar dari studio dan kembali disambut sinar matahari, aku menyadari bagian depan bajuku basah oleh percikan air tadi.
Aku agak kecewa mengapa tidak ada hiu tiba-tiba menerkam dari dalam air yang bergejolak oleh api. Loh, kan masih ada hubungannya dengan Jaws-nya Steven Spielberg? Pasti bakal lebih seru dan membuatku menjerit lebih kencang.

Meninggalkan zona Hollywood-New York, kini memasuki zona Sci-Fi dengan robot-robot Transformer berdiri dengan gagah. Di tengah area ada lintasan roller coaster meliuk-liuk yang kadang disemarakkan oleh jeritan para pengunjung. Nah, ini dia waktunya memproduksi hormon adrenalin.
Sebelum naik wahana Battlestar Galactica, pengunjung harus menitipkan barang bawaan dulu di loker. Gratis selama 45 menit. Cukup memasukkan tanggal lahir dan warna favorit sebagai akses loker. Tidak boleh membawa barang apapun, termasuk hape. Tapi, di dalam wahana juga ada rak penitipan barang khusus untuk topi, kacamata, dan sepatu (jika ingin bertelanjang kaki).
Durasi-nya ternyata tidak sampai dua menit tapi cukup membuat jantung mencelus dan teriak sampai suara serak. Lumayan mengerikan karena setelah aku kembali berada di darat dan bisa memandangi dengan saksama dari bawah, aku menyadari bahwa ternyata tadi aku dibawa setinggi itu! Bahkan dijungkir balik sambil dijatuhkan. Luar biasa.
Di setiap wahana roller coaster pasti ada kamera tersembunyi dan pengunjung juga bisa melihat hasil foto—saling menertawakan ekspresi yang bisa muncul di situasi menegangkan seperti itu. Aku jadi teringat video orang yang mampu menahan ekspresi datar ketika naik roller coaster. Definisi sudah tidak terkejut lagi dengan apapun yang diberikan hidup.
Setelah beranjak dari zona Sci-Fi, kami memasuki zona Ancient Egypt dengan patung-patung anubis yang menjulang mengintimidasi. Kami ingin mengulang keseruan naik roller coaster Revenge of the Mummy, tapi sayangnya sedang tutup untuk maintenance 😭.
Kecewa berat karena itu artinya sia-sia saja datang ke sini. Petugasnya langsung menghibur hati wahana tidak akan tutup seharian, hanya untuk beberapa jam. Jadi, kami berkeliling dulu ke zona lain sambil menunggu.
Waktunya isoma. Setelah solat di mushola yang terletak di zona Ancient Egypt, kami berkeliling melihat restoran yang ada di masing-masing zona. Ada restoran nasi briyani di zona Ancient Egypt, restoran pizza di zona New York, dan restoran burger di zona Hollywood. Akhirnya memutuskan untuk makan burger and fries di Mel’s Drive-in (halal).
Suasana restoran benar-benar seperti yang ada film-film Amerika bertema road trip—di mana si tokoh protagonis singgah sebentar di restoran pinggir jalan, duduk di meja bundar dengan kursi berwarna merah retro.
Setelah kenyang, di tengah jalan kembali menuju zona Ancient Egypt mendapati acara meet and greet dengan Elmo, Cookie Monster, dan Oscar sedang berlangsung! Kami langsung antri foto bersama para bocil. Elmo sepertinya sadar dirinya terkenal sebagai tokoh utama jadi dengan luwes dia langsung berpose merentangkan tangan. Bahkan Oscar tetap berpose di dalam tempat sampah. Cookie Monster dengan tubuhnya yang tinggi besar bersandar kepadaku. Menggemaskan.
Proses maintenance Revenge of the Mummy belum selesai. Jadi, lanjut jalan sampai di zona The Lost World. Aku tidak terobsesi dengan dinosaurus sih, tapi rupanya ada roller coaster yang lebih ramah keluarga—maksudnya bukan yang ekstrim seperti Battlestar Galactica. Memang ada tanjakan dan turunan, rasanya lebih seperti terayun-ayun santai mengikuti laju kereta. Lumayan menyenangkan.

Akhirnya sampai juga di zona terakhir, Far Far Away, yang sebenarnya not so far sih. Eh, kebetulan sekali bertepatan dengan jadwal acara meet and greet Sherk dan Princess Fiona! Sepertinya mereka baru saja keluar dari ruang make up, jadi para pengunjung mengiringi layaknya rombongan besan mengiringi pengantin sampai berada di depan istana.
Princess Fiona saat itu masih berwujud manusia alih-alih ogre. Loh, padahal kan Princess Fiona rela menjadi ogre selamanya demi Sherk!
Serta merta terbentuk antrian di depan mereka. Tentu saja kami juga mengantri untuk berfoto. Princess Fiona sangat ramah (auto bintang lima); menyapa pengunjung, menanyakan kabar, dan berbasa-basi ingin tahu sudah berkunjung ke mana saja. Setelah melambaikan salam perpisahan kepada Sherk dan Princess Fiona, kami mencoba wahana Sherk 4D Adventure yang terletak di dalam istana.
Sherk 4D Adventure menceritakan petualangan Sherk dan Donkey menyelamatkan Fiona yang diculik komplotan Lord Farquaad (bahkan setelah dia menjadi hantu). Penonton bisa merasakan semprotan bersin Donkey, laba-laba yang merayapi kaki, bahkan ikut terlonjak-lonjak saat naik kuda. Lucu dan menyenangkan.
Keluar dari wahana rupanya ada acara meet and greet Puss in Boots yang baru saja selesai. Kekecewaan langsung terobati karena walau ketinggalan tapi masih bisa antri foto bersama Puss in Boots, Kitty Softpaws, dan Fortune Teller. Astaga, ini meet and greet favoritku karena KOCHENG! Oren pula, aduh.
Zona Far Far Away juga punya wahana roller coaster yang ramah keluarga dan bertema PUSS IN BOOTS! Namanya Puss in Boots’ Giant Journey. Di pintu masuk ada si kucing oren bertopi sedang nyengir sambil mengacungkan rapier. It’s going to be a fun journey!
Wahana ini menceritakan perjalanan Puss in Boots dan Kitty Softpaws mencari telur-telur emas, memanjat pohon kacang, sambil dikejar oleh seekor angsa raksasa. Yah, ini tiga dongeng menjadi satu.

Rasanya sama-sama terayun-ayun santai seperti yang ada di The Lost World. Jalurnya semakin menanjak seolah memang sedang memanjat pohon. Di akhir perjalanan disambut sekawanan patung kucing yang sedang berdansa merayakan keberhasilan Puss in Boots dan Kitty Softpaws. Menggemaskan betul.
Puas berkeliling zona dan naik beberapa wahana, kami mencoba peruntungan dengan kembali menengok proses maintenance. Alhamdulillah, rupanya sudah selesai!
Langsung terbentuk antrian panjang, tapi waktu tunggu tidak lama—kira-kira 15 menit. Wahana Revenge of the Mummy juga melarang barang bawaan (loker tersedia gratis selama 45 menit). Di sepanjang jalur masuk antrian terpampang banyak peringatan mengenai wahana ini, bahkan dilengkapi rekaman video sekelompok pengunjung yang sedang naik wahana; rambut mereka berkibar sementara ekspresi mereka ketakutan sekaligus antusias.
Berdasarkan pengalaman pertama naik wahana ini tempo dulu, aku hanya mengingat bahwa nanti akan diterjunkan secara mundur alih-alih maju, suasananya gelap dan panas oleh api. Dan yah, memang persis seperti yang kuingat. Testimoni pengunjung bilang bahwa wahana ini yang paling seram. Tapi, menurutku kalau menilai dari seberapa ampuh jantung dibuat mencelus maka pemenangnya adalah Battlestar Galactica.
Bagian paling menegangkan dari wahana Revenge of the Mummy adalah ketika kereta melaju semakin cepat, mengejar kesempatan sebelum dinding benar-benar tertutup dan tidak terjebak selamanya di dalam ruang gelap penuh api. Well, aku tahu tidak mungkin kami akan mengalami situasi ala Final Destination seperti terjebak, atau skenario terburuk, terjepit di antara dinding tapi tetap saja bagian itu benar-benar berhasil memproduksi hormon adrenalin.
Berkeliling Universal Studios memang membutuhkan waktu seharian. Tahu-tahu sudah sore dan saat melangkah ke pintu keluar, ada petugas yang membawa boneka Elmo melambaikan salam perpisahan. Sampai jumpa lagi, Elmo! 🤸♀️🎢
Sayang sekali sekarang zona Madagascar sudah tidak ada 😭.
Ngomong-ngomong, di dalam kompleks Universal Studios tersedia stasiun pengisian air minum (dapat ditemukan di zona Far Far Away depan istana dan air mancur katak). Cukup membawa tumblr kosong, setidaknya bisa menghemat beberapa SGD daripada beli air minum kemasan. Also, lebih ramah lingkungan 🙆♀️.

Kembali menyusuri Sentosa Boardwalk untuk menuju mainland. Sekarang hati sudah senang, tapi perut lapar. Setelah browsing di Google, kami memutuskan untuk makan beef noodle ala restoran Lanzhou yang terletak di Chinatown.
Naik MRT dari stasiun HarbourFront ke stasiun Clarke Quay melalui jalur ungu North East Line. Lanjut jalan kaki sampai ke mall Chinatown Point. Kebetulan restorannya terletak tepat di depan pintu masuk, namanya Tongue Tip Lanzhou Beef Noodles. Logo halal tertera di kaca etalase jadi sudah pasti aman 👌.
Harga per mangkuk 12 SGD. Bisa pilih rasa kuah, ada yang original atau mala (pedas). Bentuk mie-nya panjang-panjang dan agak tebal. Dilengkapi irisan daging sapi, daun bawang, lobak, dan daun ketumbar. Rasa kuahnya ringan, segar, dan wangi, mirip seperti pho (mie daging dari Vietnam). Bening tanpa kecap. Banyak sayuran.

Kami masih bertanya-tanya bahan apa yang ditambahkan sehingga bisa menimbulkan sensasi rasa wangi. Kami 100 persen yakin itu karena daun ketumbar. La petite sœur tidak terlalu doyan, lain halnya denganku. Aku merasa sedang makan sup herbal yang ampuh menyehatkan tubuh. Kalau di genre minuman ada jamu, maka di genre makanan ada beef noodle Lanzhou.
Setelah perut kenyang dan hangat oleh kuah sup, kami pulang ke hotel melalui jalur MRT sebelumnya. Sempat melewati Hong Lim Park—taman di tengah kota dengan barisan pohon tinggi dan panggung berbentuk kubah. Rasanya ingin rebahan di tengah rumput hijau sambil memandangi daun-daun di puncak pohon terhembus oleh angin. Tamannya rapi, bersih, dan tenang. Bayangkan saat jam istirahat kerja bisa melipir sebentar ke sini (tamannya diapit gedung-gedung perkantoran).
Mendarat di stasiun Little India, dengan sisa tenaga kami lanjut jalan kaki ke Mustafa Centre untuk beli oleh-oleh cokelat. Ini adalah tempat belanja favorit seluruh umat dunia yang mengunjungi Singapura karena murah, lengkap, dan buka 24 jam. Gang-gangnya sempit dan disesaki pengunjung. Lantai satu untuk konter elektronik dan lantai dua untuk rak-rak makanan.
Di Mustafa Centre girl math kembali berperan dalam pengambilan keputusan. Apalagi jatah koper bagasi kabin hanya 7 kg, jadi kami benar-benar memilih dan menimbang-nimbang masing-masing kotak cokelat. Ada banyak merek cokelat, biskuit, makanan siap saji, bahkan bumbu masakan. Tapi, tetap harus memeriksa logo halal di kemasan (kecuali sudah yakin bermodal Bismillah Halal ya tidak apa-apa).
Di jalan pulang menuju hotel menenteng kantong belanja Mustafa Centre dengan letih, seraya berusaha menembus lautan pengunjung, turis, dan warga lokal yang berlalu lalang.
Sampai di hotel langsung bersih-bersih, beres-beres koper, dan tidur.
🎢 Hari 3 (SIN-CGK) 🎢
Sebelum check out hotel, kami kembali sarapan di Tekka Centre. Menunya sama-sama prata, tapi beli di warung yang berbeda. Kali ini mencoba prata rasa gurih dengan campuran telur, dilengkapi semangkuk kecil kuah kari—yang tampaknya—berisi daging kambing.
Berdasarkan pengamatan situasi di sekitar, orang-orang menikmati prata dengan cara menuang kuah kari ke atasnya. Kami mencoba secuil dan dicelupkan ke kuah. Terima kasih untuk kuah karinya, tapi maaf Uncle, rasanya terlalu kuat (not for us) 😭. Akhirnya, kami hanya menghabiskan prata tanpa kuah.

Setelah itu, berjalan-jalan di sekitar lingkungan sambil mengamati suasana pagi hari. Ada truk-truk pembawa bahan makanan yang bersiap berangkat. Ada toko-toko dan warung-warung makanan yang sudah didatangi beberapa pengunjung. Banyak sepeda terparkir di depan stasiun MRT—sepertinya milik warga lokal yang commuting.

Ada bangunan bersejarah di Little India yang dulunya tempat tinggal seorang pebisnis namanya Tan Teng Niah. Seluruh bagian dinding, jendela, dan pintu dicat warna-warni. Di depan bangunan terpasang papan tulisan “Private Property”, jadi sayangnya turis hanya bisa melihat dari luar.
Saat kami berfoto daun-daun jendela sedang terbuka dan seorang uncle menengok ke luar. Aduh, punten ya, Uncle, numpang foto!

Di depan hotel berdiri apartemen dengan ruko-ruko di bawahnya. Mungkin karena masih pagi, atau mungkin orang-orang sudah beraktivitas duluan jadi suasana sepi. Rupanya di lingkungan apartemen ada ruang publik seperti taman yang dilengkapi ayunan, jungkat-jungkit, dan perosotan. Lantainya dilapisi karpet, aman untuk anak-anak bermain. Bahkan di sebelahnya ada semacam mini gym!
Alat-alat peraga untuk strength training tersedia dan dilengkapi papan petunjuk berisi gambar-gambar gerakan yang mudah diikuti. Aku mencoba nge-gym sebentar. Belum apa-apa sudah bersimbah keringat saja 😭.

Wah, betapa senangnya menjadi warga yang tinggal di lingkungan itu. Cari makanan dekat, belanja kebutuhan sehari-hari dekat, mau bermain atau nge-gym pun dekat. Stasiun dan halte bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
Setelah berpuas diri menikmati pagi yang indah, kami check out hotel, dan menggiring koper-koper menuju stasiun MRT Little India. Berkesempatan melihat suasana rush hour—MRT dipenuhi para pekerja dan pelajar.
Ternyata di antara penumpang pun ada beberapa turis yang sama-sama menggiring koper, bahkan ukurannya lebih besar daripada koper kabin kami. Jadi, sebenarnya ini adalah pemandangan biasa; sebagai sesama pengguna transportasi umum tidak ada yang perlu dipermasalahkan 👀.
Lagi-lagi aku mendapati orang-orang yang berjalan cepat tapi tidak tampak tergesa-gesa. Kaki-kaki dengan memori otot terlatih yang lincah menapaki eskalator bergerak cepat (setelah dua hari akhirnya aku mulai terbiasa).
Aku melihat seorang pekerja berdiri di dalam MRT. Alih-alih berpegangan pada handgrip, dia tekun bermain game pertanian di iPad. Ladang-ladangnya tumbuh subur, tidak ada petak kosong sama sekali. Kami terayun-ayun dan hampir jatuh saat kereta berjalan, sedangkan dia tetap berdiri mantap tak tergoyahkan dengan 100 persen perhatian ditujukan ke dalam perannya sebagai seorang petani makmur. Mengesankan.
Kami turun di stasiun transit Tanah Merah, dan lanjut menuju stasiun akhir bandara Changi. Kali ini bertemu dengan lebih banyak turis yang menggiring koper. Suasananya cukup sepi, para pekerja sudah pada turun di stasiun-stasiun sebelumnya.
Berjalan semakin menjauh dari kota, mendapati deretan gedung apartemen di sepanjang jalan. Oh, mungkin ini adalah daerah khusus pemukiman warga. Gedung-gedung itu tampak seragam, yang membedakan hanya nomor-nomor tertera di puncaknya.

Sampai di stasiun MRT bandara Changi di Terminal 2, kami bertolak menuju Jewel Changi di Terminal 1 dengan shuttle bus. Mumpung jadwal keberangkatan pesawat masih beberapa jam lagi, mending tamasya sejenak sambil menikmati pertunjukkan air mancur di Jewel Changi.
Jewel Changi adalah nama mall di dalam bandara dengan atraksi ikonik air terjun buatan berupa ratusan liter air yang ditumpahkan dari tujuh lantai ke dalam kolam bundar besar di tengah aula. Gratis. Atraksi dimulai jam 11:00 siang. Kami menonton dengan takjub dari balkon taman di lantai 4.
Walau serasa di hutan tropis dengan taman-taman yang dipenuhi tumbuhan hijau, tapi tidak terasa lembab dan panas. Nyamuk kebun pun tak ada. Lumayan menyenangkan nongkrong di sini sambil menunggu jadwal keberangkatan pesawat. Setelah berfoto-foto cantik (atap kaca di atas air terjun membiaskan sinar matahari), kami lanjut berkeliling mall.

Selain pertokoan dan restoran ada layanan early check in, penitipan barang (berbayar), tax refund, bahkan pameran dan bioskop. Penumpang yang transit lama di Singapura tidak akan bosan deh (termasuk penumpang yang mengalami situasi seperti di film The Terminal 💁🏻♀️).
Menu makan siang berupa burger and fries di Shake Shack. Bermodal keyakinan Bismillah Halal kami memesan burger ayam harga SGD 9.90 dan kentang goreng harga SGD 5 (pilih yang termurah).
Ayamnya digoreng ala katsu, empuk dan juicy. Sayurannya banyak, rasa saus mayo-nya enak. Benar-benar sebanding dengan harga. Aku menikmati dan mensyukuri setiap gigitan. Tersedia free flow air putih—menghemat beberapa SGD lagi deh, senang!

Karena tidak ada lagi yang bisa dilihat di Jewel, kami langsung bertolak ke Terminal 4 dengan shuttle bus lagi. Setelah check in secara mandiri, kini saatnya mempersiapkan mental untuk tantangan selanjutnya: melewati imigrasi. Kembali dengan jantung berdebar dan overthink, sambil memindai paspor, sidik jari, dan wajah di auto gate. Alhamdulillah lancar.
Untuk merayakan itu, kami melipir ke toko buku sebentar. Niat awal sih ingin lihat-lihat yah, eh rupanya sedang ada diskon 50% untuk pembelian buku kedua. Ya sudah, sebagai seorang kutu buku yang mudah keracunan sudah pasti tidak akan melewatkan kesempatan ini.
Demi apapun, buku-buku yang terpajang di rak bagus-bagus semua sampai bingung memilihnya! Sebagian besar belum pernah kulihat di toko buku Indonesia. Ada rak khusus berisi buku-buku bertema slices of life dari penulis Jepang. Gambar sampulnya cantik-cantik. Serta merta pandanganku tertumbuk pada sebuah buku bersampul biru. Eh, eh, ada Intermezzo dong!

Ya ampun, aku girang sekali bagai menemukan selembar uang di dalam kantong celana. Bahkan karya baru Sally Rooney yang ini belum dijual di Indonesia, apalagi terbit versi terjemahannya. Tanpa pikir panjang, aku kesampingkan buku-buku lainnya dan langsung membawa buku ini ke kasir.
Aku baru menyadari bahwa bandara Changi tidak pernah mengumumkan jadwal pesawat melalui pengeras suara. Karena sunyi seperti ini, kami memilih tempat duduk dekat pintu keberangkatan agar tidak ketinggalan. Menunggu sambil membaca buku baru, antri naik pesawat, dan terbang kembali ke CGK.
Besoknya kembali tekun menekuri spreadsheet di monitor, sedikit demi sedikit menyisihkan gaji untuk tamasya-tamasya selanjutnya.
Wah, sepertinya agenda kunjungan selanjutnya ke Singapura khusus untuk belanja buku 😭.

No comments
Terima kasih atas komentarnya, Kawan. Maaf dimoderasi dulu (ᵔᴥᵔ)